HAKIKAT ILMU dalam AL-QURAN
MAKALAH
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
tafsir tarbawiy
Dosen pengampu:
Drs. H. Dudung Rahmat Hidayat, M. Pd

Disusun oleh:
Mina Milatun Napisah 1504072
DEPARTEMEN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2017
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah Swt yang telah mencurahkan rahmat
dan hidayah-Nya, serta senantiasa memberikan kekuatan kepada penulis dalam
menyusun dan menyelesaikan makalah yang berjudul Hakikat Ilmu dalam Al-Qur’an. Shalawat serta salam semoga
selalu terlimpah curahkan kepada Rasulullah Saw, kepada keluarga-Nya, para
sahabat-Nya, dan semoga sampai kepada kita selaku umat-Nya.
Penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan makalah ini khususnya
kepada Bapak Dr. H. Dudung Rahmat Hidayat,
M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Tafsir Tarbawi Universitas Pendidikan
Indonesia atas segala bimbingannya, bantuannya, dorongannya, sehingga makalah
ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah ini
ditulis dengan tujuan untuk berbagi ilmu dan membantu mahasiswa untuk
mengetahui hakikat ilmu dalam Al Qur’an. Penulis
menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna. Karena keterbatasan ilmu
dan pengetahuan penulis, maka kritik dan saran yang membangun sangat kami
harapkan. Akhir kata,
penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk para pembaca dan semoga menjadi amal jariyyah penulis.
Bandung, 5 Maret 2017
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
………..………………………………………………… i
DAFTAR ISI
………..………………………………………………….............
ii
BAB I PENDAHULUAN
.….……………..…………………………………… 1
A. Latar
Belakang Penelitian ……………………………….………………. 1
B. Rumusan Masalah …………….…………………………………...……..
2
C. Tujuan Penulisan...
.…………...……...……..………………....................2
D. Manfaat Penulisan........................................................................................3
E.
Metode
Penulisan.........................................................................................3
F.
Sistematika Penulisan..................................................................................3
BAB II PEMBAHSAN.…….……………………………………........................ 4
A. Pengertian Ilmu..............……………………………......……………….. 4
B.
Tafsir
QS. Thaha ayat 114
1. Tafsir QS.
Thaha ayat 114.......................................................................5
2. Analisis Struktur Kata dalam Kalimat..................................…………...6
3. Analisis Makna
Tarbiyah........................................................................7
C. Tafsir QS. An-Naml ayat 15
1.
Tafsir QS. An-Naml ayat 15..................................................................8
2.
Analisis Struktur Kata dalam Kalimat...................................................9
3.
Analisis Makna Tarbiyah.....................................................................11
D. Tafsir QS. Al-Qashash ayat 14
1.
Tafsir QS. Al-Qashash ayat 14.............................................................12
2.
Analisis Struktur Kata dalam Kalimat.................................................13
3.
Analisis Makna Tarbiyah.....................................................................14
E.
Tafsir QS. Al-Mujadalah ayat 11
1.
Tafsir QS. Al-Mujadalah ayat 11.........................................................15
2.
Analisis Struktur Kata dalam Kalimat.................................................17
3.
Analisis Makna Tarbiyah.....................................................................20
F.
Keutamaan
Ilmu.........................................................................................21
BAB III PENUTUP................................................................................................25
A. Kesimpulan..............................................................................................25
B. Rekomendasi............................................................................................26
DAFTAR
PUSTAKA ………………………………………………………….....27
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang berbeda dengan makhluk
ciptaan Allah lainya. Sudah ma’lum mengapa manusia berbeda dengan makhluk
lainnya, yaitu karena manusia makhluk ciptaan Allah yang mempunyai akal. Dengan
akal manusia dapat berpikir dan berproses. Sebagai contoh pada zaman dahulu
manusia belum mengetahui bagaimana cara mereka menemui kerabat dengan waktu
yang cepat dan tidak menghamburkan tenaga. Tapi lihatlah sekarang manusia dapat
membuat benda yang mempermudah urusan mereka, seperti mobil, motor, bahkan
kapal yang bertranfortasi di langit seperti halnya burung.
Semua perkembangan dan kemajuan manusia tidak terlepas dari yang
namanya ilmu atau pengetahuan. Mulai dari ilmu agama sampai ilmu pengetahuan
umum. Tidak berbeda dengan manusia ilmu juga mengalami banyak perkembangan dan
kemahuan. Khususnya kemajuan yang dicapai para ilmuan Muslim seperti Ibnu Sina.
Beliau merupakan orang yang sangat berjasa dalam ilmu kedokteran.
Di kalangan umat Islam ilmu pengatahuan mulai bangkit kembali pada abad modern sampai sekarang. Hal
ini dipengaruhi oleh kemajuan yang dicapai oleh masyarakat Barat dan Eropa.
Kemudian timbul kesadaran untuk melepaskan diri dari penjajahan. Oleh karena
itu umat Islam perlu memiliki kekuatan dalam bidang mental, ilmu pengetahuan
dan teknologi. Sejak saat itu umat islam mulai mengjkaji secara seksama
terhadap ayat-ayat Al Qur’an yang mempunyai hubungan dengan ilmu
pengetahuan.
Menurut Sigit Suhandoyo dalam blognya, Al
Qur’an al karim menduduki ilmu dalam Islam pada posisi yang tinggi. Ilmu
dipandang sebagai salah satu unsur pembentuk kepribadian manusia dan merupakan
sebuah jalan yang menghantarkan manusia dalam posisi yang terhormat. Hal
ini sejalan dengan Firman Allah dalam QS. Al Mujadalah ayat 11 “….niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan
Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Oleh karena itu penulis
mencoba memahami dan kemudian menyajikannya dalam sebuah makalah yang berjudul
“Hakikat Ilmu dalam Al- Qur’an”.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa
pengertian ilmu secara umum?
2.
Bagaimana
hakikat ilmu dalam Al-Qur’an?
3.
Bagaimana
tafsir dari QS. Thaha ayat 114, An Naml ayat 15, Al Qashash dan QS. Al
Mujadalah ayat 11?
4.
Bagaimana
analisis kata dari QS. Thaha ayat 114, An Naml ayat 15, Al Qashash dan QS. Al
Mujadalah ayat 11?
5.
Bagaimana
analisis makna tarbiyah dalam QS. Thaha ayat 114, An Naml ayat 15, Al Qashash
dan QS. Al Mujadalah ayat 11?
6.
Bagaimana
keutamaan-keutamaan ilmu?
B.
Tujuan
1.
Untuk
mengetahui pengertian ilmu secara umum?
2.
Untuk
mengetahui bagaimana hakikat ilmu dalam Al-Qur’an?
3.
Untuk
mengetahui bagaimana tafsir dari QS. Thaha ayat 114, An Naml ayat 15, Al
Qashash dan QS. Al Mujadalah ayat 11?
4.
Untuk
mengetahui bagaimana analisis kata dari QS. Thaha ayat 114, An Naml ayat 15, Al
Qashash dan QS. Al Mujadalah ayat 11?
5.
Untuk
mengetahui bagaimana analisis makna tarbiyah dalam QS. Thaha ayat 114, An Naml
ayat 15, Al Qashash dan QS. Al Mujadalah ayat 11?
6.
Untuk
mengetahui bagaimana keutamaan Ilmu?
C.
Manfaat
Manfaat teoritis dari penulisan mkalah ini yaitu dapat menambah
wawasan keilmuan dan pemahaman mendalam mengenai definisi ilmu secara umum dan
hakikat ilmu dalam Al-Qur’an khususnya pada QS. Thaha ayat 114, An Naml ayat
15, Al Qashash dan QS. Al Mujadalah ayat 11. Sedangkan manfaat praktisnya yaitu
semoga makalah ini bisa menjadi salah satu referensi tambahan bagi pemabaca yang
hendak mengkaji ulang secara mendalam mengenai hakikat ilmu dalam Al Qur’an dan
pada khususnya semoga makalah ini menjadi suatu pemahaman yang melekat pada
diri kita sebagai calon seorang guru.
D.
Metode Penulisan
Metode
penulisan makalah ini adalah studi pustaka. Dimana informasi yang penulis
peroleh berasal dari beberapa kitab, buku
dan artikel di internet yang berhubungan dengan materi yang dipaparkan. Penulis
membaca dan mempelajarinya, lalu memilah setiap informasi yang diperoleh untuk
kemudian ditungkan dalam makalah ini.
E.
Sistematika Penulisan
Makalah ini dibuat dengan menggunakan
sistematika makalah tiga bab yang teridiri atas (1) pendahuluan (2) pembahasan
(3)penutup.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Ilmu
Ilmu berasal dari Bahasa Arab yaitu علم yang artinya pengetahuan. Sumber lain
mengatakan bahwa ‘ilm adalah bentuk dari masdar dari علم
يعلم علم . Dalam buku Abuddin Nata yang berjudul Tafsir Ayat-ayat
Pendidikan (2002, hlm. 155) terdapat beberapa pendapat tentang kata ilmu, yaitu
sebagai berikut:
1.
Ibn
Zakaria kata ‘ilm mempunyai arti denotatif yang artinya bekas sesuatu yang
dengannya dapat dibedakan sesuatu dari yang lainnya
2.
Ibn
Manzur, ilmu adalah antonim dari tidak tahu atau naqid al-jahl
3.
Al-Asfahani
dan Al-Anbari, ilmu adalah mengetahui hakikat sesuatu
Sedangkan dalam KBBI ilmu berarti pengetahuan tentang suatu bidang
yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu. Menurut Syaikh
Az-Zarnuji (dalam Thaifuri, 2008, hlm.13) mengemukakan bahwa ilmu adalah suatu
sifat yang dengannya dapat menjadi jelas pengertian suatu hal yang dimaksud. Kemudian
Tafsir, Ahmad (2012, hlm. 17) menambahkan bahwa isi ilmu bukan hanya kumpulan
teori, akan tetapi isi lainnya adalah penjelasan tentang teori itu dan data
yang mendukung penjelasan itu.
Setelah membaca dan memahami beberapa pendapat di atas, penulis
menyimpulkan bahwa ilmu merupakan kata yang berasal dari bahasa arab yang
artinya pengetahuan dan bentuk mashdar dari fi’il tsulasi mujarod علم يعلم علم . Secara
lebih jelas ilmu dapat didefinisikan sebagai
pengetahuan tentang teori beserta penjelasannya.
B.
QS. Thaha Ayat 114
1.
Tafsir QS. Thaha Ayat 114
فَتَعَالَى
اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ وَلا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى
إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Maka Mahatinggi Allah, Raja yang
sebenar-benarnya. Dan janganlah engkau (Muhammad) tergesa-gesa (membaca)
Al-Qur’an sebelum selesai diwahyukan kepadamu, dan katakanlah, “Ya Tuhanku,
tambahkanlah ilmu kepadaku.”
Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa
terdapat Hadits Shahih yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah
pernah mengalami kesulitan pada waktu menerima wahyu yang sempat menggerakan
lidahnya. Lalu Allah menurunkan ayat ini, yakni jika Rasulullah didatangi oleh
Jibril dengan membawa wahyu, setiapkali dibacakan satu ayat oleh Jibril maka
beliau mengucapkannya bersama dengannya karena kegigihan beliau dalam
membimbing Al Qur’an. Lalu Allah membimbing beliau kepada yang lebih mudah dan
ringan agar beliau tidak merasa kesulitan.
Dan di dalam surat Thaha ini Allah berfirman “Dan
janganlah engkau (Muhammad) tergesa-gesa (membaca) Al-Qur’an sebelum selesai
diwahyukan kepadamu”, maksudnya hendaklah kamu dengar dulu dan jika malaikat
sudah selesai membacakannya kepadamu, maka bacalah setelah itu. “Dan
katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” Artinya, tambahkanlah
ilmu kepadaku dari sisi-Mu.
Ibnu ‘Uyainah Rahimallohu ‘Anhu berkata “Rasulullah
saw.. Bertambah ilmunya sampai hari kewafatannya”. Sedangkan Ibnu Majah
meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Ia menuturkan Rasulullah saw. Bersabda:
اللهم انفعني
بما علمتني،وعلمني ما ينفعني،وزدني علما، والحمدلله على كل حال
“Ya Allah, jadikanlah apa
yang telah Engkau ajarkan kepadaku itu bermanfaat bagiku, dan ajarkanlah apa
yang bermanfaat bagiku serta tambahkanlah ilmu kepadaku. Segala puji bagi Allah
atas segala keadaan”.
Tidak banyak berbeda dengan penjelasan tersebut, dalam tafsir fi
zhilalil disebutkan sebagai berikut:
Maka maha tinggi Allah, raja yang sebenar-benarnya yang tunduk
kepada-Nya seluruh wajah yang merugi dihadapan-Nya para penzalim, dan yang
merasa aman dibawah lindunganNya orang-orang mukmin yang saleh. Dialah yang
menurunkan Al Qur’an ini disisi-Nya yang tinggi karena-Nya janganlah lisanmu
tergesa-gesa mengucapkannya. Al quran diturunkan untuk hikmah tertentu, tidak
mungkin Allah menyia-nyiakannya.
Yang seharusnya
kamu lakukan adalah berdoa kepada tuhanmu agar dia menambahkan ilmu kepadamu,
dan engkau tenang dengan apa yang diberikan Allah kepadamu. Kamu jangan
khawatir Al Qur’an itu pergi. Ilmu itu tiada lain adalah yang diajarkan Allah
kepadanya. Yang bermanfaat pasti akan tetap dan tidak akan hilang. Dia akan berbuah
dan tidak akan gosong.
2.
Analisis Struktur Kata dalam Kalimat
(فَتَعَالَى
) الفاء استئنافية تعالى فعل ماض مبنى على فتح المقدر
(الله) لفظ الجلالة فاعل تعالى مرفوع بالضمة لانه
اسم المفرد
(الملك الحق) صفتان مرفوعتان والجملة استئنافية
(ولا تعجل) الواو عاطفة ولا ناهية فعل مضارع مجزوم بلا
الناهية والفاعل ضمير
مستتر فيه وجوب تقدره انت
(بالقرأن) الباء حرف جر اصلي
القرأن مجرور بالباء مجرور بالكسرة لانه اسم مفرد
(من
قبل) من حرف جر اصلي قبل مجرور بمن مجرور
بالكسرة لانه اسم مفرد
(ان
يقضى) حرف نصب يقضى فعل مضارع مبنى للمجهول
(اليك)
الى حرف جر اصلي ك
مجرور ب الى مبنى على فتح فى محل جر
(وحيه) نائب الفاعل مرفوع بالضمة لانه
اسم المفرد . وحي مضاف الهاء ضمير متصل مضاف اليه مبني على ضم فى محل جر
(وقل) الواو حرف عطف قل فعل امر مبنى على سكون فى اخره . والفاعل ضمير مستتر فيه وجوب تقدره
انت. والجملة معطوف على ولا تعجل
(ربّ) منادى بأداة نداء
محذوفة منصوب على النداء وفضاف الى ياء المتكلم المحذوفة
(زدني) فعل دعاء والنون
وقاية والياء فى محل نصب مفعول به أول
(علما)مفعول به ثانى
منصوب بالفتحة لانه اسم المفرد
3.
Analisis
Makna Tarbiyah dalam QS. Thaha:
114
Ayat ini
menjelaskan bahwa ketika Rasulullah sedang menerima wahyu dari Malaikat Jibril,
Ia pernah mengalami kesulitan. Kemudian Allah memberi perintah kepada Nabi
Muhammad agar tidak menerima wahyu secara tergesa-gesa. Maksudnya agar menerima
wahyu dengan menunggu Malaikat Jibril selesai menyampaikannya. Walaupun pernah
seperti itu dengan kegigihannya Malaikat berhasil membimbing Rasulullah dengan
bantuan Allah yang telah menghilangkan kesulitan menjadi kemudahan. Selain
itu, ayat ini juga memerintahkan kepada
Rasulullah untuk berdoa kepada Allah, dzat yang telah menambahkan ilmunya.
Karena sesungguhnya Allahlah yang memberikan itu semua. Dalam hadits disebutkan
doa Rasulullah, yakni:
اللهم انفعني
بما علمتني،وعلمني ما ينفعني،وزدني علما، والحمدلله على كل حال
“Ya Allah, jadikanlah apa
yang telah Engkau ajarkan kepadaku itu bermanfaat bagiku, dan ajarkanlah apa
yang bermanfaat bagiku serta tambahkanlah ilmu kepadaku. Segala puji bagi Allah
atas segala keadaan”.
Oleh karena
itu, ayat ini memiliki makna bahwa kita sebagai seseorang yang sedang menuntut
ilmu untuk tidak melakukannya dengan tergesa-gesa. Karena mencari ilmu itu
tidak cukup dengan waktu yang singkat. Apalagi kita tahu bahwa yang menambahkan
ilmu kepada kita adalah Allah tuhan semesta Alam. Kita hanya bisa berikhtiyar
untuk mencari ilmu dengan sebaik-baiknya dan tidak tergesa-gesa. Selain itu,
kita sebagai hamba pasti telah mengetahui bahwa doa merupakan senjata kita
dalam segala hal. Tidak berbeda ketika kita akan, sedang dan telah menuntut
ilmu, yaitu hendak berdoa dengan apa yang telah Rasulullah contohkan. Karena
itu merupakan salah satu hal yang dapat mempercepat doa kita diijabah oleh
Allah.
C.
QS. An-Naml Ayat 15
1.
Tafsir QS. An-Naml Ayat 15
وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ
وَسُلَيْمَانَ عِلْمًا ۖ وَقَالَا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَىٰ
كَثِيرٍ مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan sesungguhnya Kami telah memberi
ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: "Segala puji bagi
Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman".
Dalam Tafsir Al-Misbah dijelaskan
bahwa kata كثير bukan berarti kebanyakan, tapi berarti banyak.
Ucapan beliau itu menunjukan kehati-hatian sekaligus mencerminkan kerendahan
hati kedua Nabi yang sekaligus raja itu. Kata banyak sudah benar, walau
jumlahnya hanya lebih dari dua orang, tetapi kalau dikatakan kebanyakan, itu
paling tidak berarti lebih lima puluh persen dari jumlah seluruh oang-orang
mukmin. Walaupun hal tersebut benar adanya buat kedua Nabi agung tersebut,
bahkan Nabi Sulaiman as. dianugrahi kekuasaan yang tidak pernah akan dapat
diraih oleh manusia sesudahnya, terasa kurang tepat bila mereka berkata
kebanyakan dari orang-orang mukmin karena hal tersebut dalam mengesankan adanya
pengetahuan beliau secara pasti tentang semua orang mukmin, di samping jika
beliau berucap demikian terasa juga ada semacam kebanggan yang tidak tepat
untuk diucapkan oleh seorang Nabi tanpa menggandengkannya dengan kalimat yang
mengesankan kerendahan hati.
Kata الحمد
لله biasa diartikan segala
puji bagi Allah. Kata حمد berarti pujian, ia adalah ucapan yang yang
ditujukan kepada yang dipuji atas sikap atau perbuatannya yang baik walau tidak
memberi sesuatu kepada si pemuji. Di sini bedanya dengan kata syukur yang pada
dasarnya digunakan untuk mengakui dengan tulus dan dengan penuh hormat
pemberian yang dianugrahkan oleh siapa yang disyukuri itu kepada yang
bersyukur. Kesyukuran itu bermula dalam hati yang kemudian melahirkan ucapan
dan perbuatan.
Dua huruf, yaitu alif dan lam yang
menghiasi kata hamd, oleh para pakar-pakar bahasa dinamai Alif lam Al Istighraq
dalam arti mencakup segala sesuatu. Oleh karena itu al hamdu lillah sering
kali diterjemahkan dengan segala puji.
Kata لله terangkai dari kata Allah yang didahului oleh
huruf lam sehingga terbaca lillah. Huruf lam yang menyertai kata Allah
mengandung makna pengkhususan bagi-Nya. Ini berarti al hamdu lillah berarti
segala puji hanya khusus dipersembahkan kepada Allah swt. tidak kepada
selainnya.
2.
Analisis
Struktur Kata dalam Kalimat
(وَلَقَدْ( الواو استئنافية واللام
واقعة في جواب القسم
(آتَيْنَا( فعل ماض والنون
فاعل مبنى على سكون في محل رفع
(دَاوُودَ)
مفعول به اول منصوب بالفتحة لانه اسم المفرد والجملة جواب قسم لامحل لها من
الاعراب
(وَسُلَيْمَانَ) عطف والمعطوف
(عِلْمًا) مفعول به ثانى منصوب
بالفتحة لانه اسم المفرد
(وَقَالَا) فعل ماض والفاعل
ضمير مستتر فيه جوز تقدره هما
(الْحَمْدُ) مبتداء مرفوع بالضمة لانه
اسم المفرد
(لِلَّهِ) جر مجرور خبر
المبتداء والجملة مقول القول
(الَّذِي) اسم موصول من الله مبني على سكون في محل جر لانه صفة من الله
(فَضَّلَنَا) فعل ماض والفاعل ضمير
مستتر فيه جوز تقدره هو و مفعول به مبني على سكون في محل نصب
(عَلَىٰ كَثِيرٍ) جر
مجرور
(مِنْ عِبَادِهِ) جر
مجرور الهاء ضمير متصل مضاف اليه مبني على كسر فى محل جر
(الْمُؤْمِنِينَ) صفة من عباده مجرور بالياء لانه جمع
المذكر السلم
3.
Analisis
Makna Tarbiyah dalam QS. An-Naml
Ayat 15
Ilmu yang dianugrahkan Allah kepada nabi daud dan Sulaiman as.
Sungguh banyak dan unik. Nabi daud As. Misalnya dianugrahi kemampuan membuat
perisai QS. Al anbiya 21:80 dan di ajarkan hikmah dan kemampuan menyelesaikan
perselisihan QS. Shad 38: 20. Sedangkan Nabi Sulaiman as. disamping dianugrahi
hikmah dan kemampuan memahami kasus-kasus perselisihan, juga antara lain
kemampuan memahami bahasa/suara burung(baca ayat 16 surah ini).
Pada penjelasan di atas, disebutkan bahwa kedua Nabi yang merupakan
anak dan Bapak itu mempunyai sifat kerendahan hati. Hal ini dibuktikan dengan
kesadaran mereka atas anugrah yang telah Allah berikan. Nabi Sulaiman dan Nabi
Daud bersyukur dengan mengucapkan lapadz al hamdu lillah yang berarti segala
puji bagi Allah.
Sehingga ayat dia atas menuntun setiap ilmuan untk mengakui
terlebih dahulu anugrah Allah atas ilmu yang dimilikinya, kemudian
mensyukurinya, bukan saja dengan pengakuan lisan, tetapi juga dengan
mengamalkan dan menyesuaikan diri dengan ilmu yang dimiliknya itu. Ayat diatas
menggabungkan kesyukuran mereka berdua dalam satu kata yang berbentuk dual.
Boleh jadi kesyukuran dan ucapannya itu merupakan ucapan bersama sebagai anak
dan ayah dan kemungkinan yang lebih besar adalah masing-masing mengucapkan
setiap saat walau setelah mereka berpisah dengan kematian Nabi Daud as.
D.
QS. Al-Qashash Ayat 14
1.
Tafsir QS. Al-Qashash Ayat 14
وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَىٰ آتَيْنَاهُ
حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
“Dan setelah Musa cukup umur dan
sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan
demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik”.
Dalam tafsir Al
Misbah ayat di atas menegaskan bahwa: dan setelah dia mencapai kemantapan
umurnya dan sempurna jasmani dan rohaninya, kami anugrahkan kepadanya hikmah,
yakni kenabian atau kearifan, atau amal ilmiah dan pengetahuan, yakni ilmu
amaliah. Dan demikianlah kami membalas al muhsinin, yakni orang-orang yang
selalu berbuat baik.
Kata أشدّه terambil dari kata الأشدّ yang oleh sementara pakar dinilai sebagai bentuk jamak dari
kata شدّ keras. Kata tersebut dipahami dalam arti
kesempurnaan kekuatan. Berbeda pendapat ulama tentang usia kesempurnaan manusia.
Ada yang menyatakan dua puluh tahun, tetapi kebanyakan menilai dimulai dari
usia 33 tahun atau 35 tahun. Kata استوى merupakan kata yang berfungsi menguatkan kata
asyuddahu, tetapi pendapat yang lebih tepat adalah usia puncak kesempurnaan
kekuatan. Dalam QS Al-Ahqof ayat 15, dinyatakan bahwa sehinga apabila dia
mencapai asyaddahu dan mencapai empat puluh tahun.
Thabathaba’i
(dalam Shihab 2009, hlm. 562) memahami bahwa حكما
dalam arti ketepatan pandangan menyangkut subtansi satu persoalan dan kebenaran
penerapannya. Dan ini pada akhirnya berarti keputusan yang benar menyangkut
baik buruknya satu pekerjaan serta penerapan keputusan itu.
Sedangkan kata
al muhsinin adalah jamak dari kata al muhsi. Kata ihsan menurut Al Harrali
dalam dalam Shihab (2009, hlm. 562) adalah puncak kebaikan amal perbuatan.
Terhadap hamba, ia tercapai saat seseorang memandang diri pada diri orang lain
sehingga dia memberi untuknya apa yang seharusnya dia beri untuk dirinya.
Sedang, ihsan antara hamba dengan Allah adalah leburnya dirinya sehingga dia
hanya melihat Alah swt. Karena itu pula ihsan antara hamba dan sesama manusia
adalah bahwa dia tidak melihat lagi dirinya dan hanya melihat orang lain itu.
Siapa yang melihat dirinya pada posisi kebutuhan orang lain dan tidak melihat
dirinya pada saat beribadah kepada Allah, dia itulah yang dinamai muhsin, dan
ketika itu dia telah mencapai puncak dalam segala amalnya.
Sedangkan dalam
Dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an disebutkan bahwa cukup umur bermakna
sempurnanya kekuatan tubuhnya. Dan, sempurna akalnya bermakna kematangan
anggota tubuh dan akalnya. Hal itu biasanya terjadi pada usia tiga pulih tahun.
Apakah Musa tetap berada di istana Fir’aun, sebagai anak asuh? Ataukan Musa
berpindah dengan keduanya dan meninggalkan istana, karena hatinya tidak tenang
hidup di tengah kondisi seperti itu, yang tidak dapat dapat dinikmati oleh jiwa
orang-orang yang dipilih oleh Allah seperti jiwa Musa?
Apalagi setelah
ibunya memeberitahukannya tentang siapa jati dirinya, siapakah kaumnya, dan apa
agamanya. Sementara ia menyaksikan kaumnya ditimpa berbagai penganiayaan,
kezaliman, kerusakan yang paling buruk dan menyimpang di tengah kerajaan
Fir’aun.
Kita tidak
memiliki tentang hal itu. Namun, konteks kejadian-kejadian setelah ini
memberikan sedikit kesan tentang hal itu. Komentar atas anugrah hikmah dan ilmu
yang diberikan Allah kepada Musa pada kalimat “demikianlah kami memberi balasan
kepada orang-orang yang berbua baik”.
Ayat ini
menunjukan bahwa Nabi Musa telah berbuat baik. Sehingga Allah pun berbuat baik
kepada Nabi Musa dengan menganugrahkannya Hikmah dan ilmu pengetahuan.
2.
Analisis Struktur Kata dalam Kalimat
(وَلَمَّا)
الواو استئنافية ولما ظرفية شرطية
(بَلَغَ)
فعل
ماض والفاعل ضمير
مستتر فيه جوز تقدره هو
(أَشُدَّهُ) مفعول به
منصوب بالفتحة لانه اسم المفرد والهاء ضمير متصل مضاف اليه مبني على كسر فى
محل جر
(وَاسْتَوَىٰ) الواو حرف عطف , فعل ماض والفاعل ضمير مستتر فيه جوز تقدره هو
(آتَيْنَاهُ) فعل ماض والفاعل
والنون ضمير متصل فاعله مبني على سكون فى محل رفع والهاء ضمير متصل مفعول به مبني على ضم فى محل نصب
(حُكْمًا) مفعول به ثانى منصوب بالفتحة
لانه اسم المفرد
(وَعِلْمًا) عطف والمعطوف
(وَكَذَٰلِكَ) الواوحرف استئناف الكاف حرف جر . ذلك اسم
الاشرة مجرور بالكاف مبنى على فتح في محل
جر
(نَجْزِي) فعل
ماض والفاعل ضمير
مستتر فيه وجوب تقدره نحن
(الْمُحْسِنِينَ)
مفعول به منصوب بالياء لانه جمع المذكر السلم
3.
Analisis Tarbiyah dalam QS. Al-Qashash Ayat 14
Ketika itu Nabi Musa sudah cukup umur untuk menerima wahyu. Tentang
cukup umur ini, banyak ikhtilaf. Ada yang menyebutkan pada saat 30 tahun, 33
tahun dan lain-lain. Selain itu, ada juga yang menyebutkan cukup umur disini
bermakna sempurnanya kekuatan tubuhnya dan sempurna akalnya bermakna kematangan
anggota tubuh dan akalnya. Singkat cerita Nabi Musa meninggalkan kerajaan
Fir’aun karena menemukan banyak kejanggalan. Hal ini membuktikan bahwa beliau
merupakan manusia pilihan Allah yang telah diberikan petunjuk.
Di ayat tersebut juga disebutkan bahwa Nabi Musa adalah seorang
muhsin, yaitu yang telah berada dalam puncak kebaikan. Dikatakan demikian
karena ketika ia membunuh salah satu dari kaum quthbi, ia merasa menyesal dan
ia tidak berniat membunuhnya. Berkat kejadian itu Nabi Musa lebih dekat dengan
Allah.
Setelah membaca dan memahami penjelasan tafsir di atas, penulis
menyimpulkan bahwa kita sebagai orang yang sedang mencari ilmu, untuk berbuat
baik. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Musa yang berada pada puncak
kebaikan, telah diberi ilmu dan hikmah oleh Allah. Berbeda dengan kejadian Nabi
Musa, pada hakikatnya kita berbuat baik hanya karena Allah. Tapi dibalik itu,
sebagai manusia pencari ilmu dan In syaa Allah akan memiliki ilmu meskipun sedikit kita berharap agar
Allah memberi ilmu kepada kita. Bukan hanya sekedar ilmu tapi ilmu yang
bermanfaat.
E.
QS. Al-Mujadalah Ayat 11
1.
Tafsir QS. Al-Mujadalah Ayat 11
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا
قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ
وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ
وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Hai orang-orang beriman apabila
dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka
lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila
dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Dalam tafsir Al Misbah kata تفسّحوا dan افسحوا terambil dari kata فسح
yakni lapang. Sedangk
kata انشزوا terambil dari kata نشوز
yakni tempat yang tinggi.
Perintah tersebut pada mulanya berarti
beralih ke tempat yang tinggi.yang dimaksud disini pindah ke tempat
lain untuk memberi kesempatan kepada
yang lebih wajar duduk atau berada di tempat yang wajar pindah itu atau bangkit
melakukan satu aktivitas positif. Ada juga yang memahaminya berdirilah di rumah
Nabi, jangan berlama-lama di sana, karena boleh jadi ada kepentingan Nabai saw.
Yang lain dan yang perlu segera beliau hadapi.
Kata مجا لس
adalah bentuk jamak dari
kata مجلس . Pada mulanya berarti tempat duduk. Dalam
konteks ayat ini adalah tempat Nabi Muhammad saw. Memberi tuntunan agama ketika
itu. Tetapi yang dimaksud disini adalah tempat keberadaan secara mutlak, baik
pada tempat duduk, tempat berdiri, atau bahkan tempat berbaring. Karena, tujuan
perintah atau tuntutan ayat ini adalah memeberi tempat yang wajar serta
mengalah kepada orang-orang yang dihormati atau yang lemah.
Kemudian ayat di atas tidak menyebut
secara tegas bahwa Allah akan meniggikan
derajat orang berilmu, Tetapi, menegaskan bahwa mereka memiliki
derajat-derajat, yakni lebih tinggi
daripada yang sekedar beriman. Tidak disebutkan kata meninggikan itu
sebagai isyarat bahwa sebenarnya ilmu yang dimilikinya itulah yang berperan
besar dalam ketinggian derajat yang diperolehnya,bukan akibat dari faktor luar
ilmu itu.
Yang dimaksud dengan الذين أوتو العلم yang
diberi pengeetahuan adalah mereka yang beriman dan menghiasi diri mereka dengan pengetahuan. Ini berarti ayat
di atas membagi kaum beriman kepada dua kelompok besar, yang pertama sekedar
beriman dan beramal saleh dan yang kedua beriman dan beramal saleh serta
memiliki pengetahuan. Derajat kelompok kedua ini menjadi lebih tinggi, bukan
saja karena nilai ilmu yang disandangnya, tetapi juga amal dan pengajarannya
kepada pihak lain, baik secara lisan, atau tulisan maupun dengan keteladanan.
Ilmu yang dimaksud oleh ayat di ats
bukan saja ilmu agama, tetapi ilmu apapun yang bermanfaat. Dalam QS. Fathir
ayat 27-28, Allah menguraikan sekian banyak mekhluk ilahi dan fenomena alam,
lalu ayat tersebut ditutupindenagn menyatakan bahwa: yang takut dan kagum
kepada Allah daari hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. Ini menunjukan bahwa ilmu
dalam pandangan Al-Qur’an bukan hanya ilmu agma. Ini menunjukan bahwa ilmu
dalam pandangan Al Qur’an bukan hanya ilmu agama. Dan ilmu juga harus
menghasilkan khasyyah yakni rasa tajut dan kagum kepada Allah, yang pada
gilirannya mendorong yang berilmu untuk mengamalkan ilmunya serta
memanfaatkannya untuk kepentingan makhluk.
Sedangkan dalam buku Tafsir
Ayat-ayat Pendidikan kata tafassahu pada ayat tersebut maksudnya adalah
tawassa’u yaitu saling meluaskan dan mempersilahkan. Sedangkan kata
yafsahillahillahu lakum maksudnya Allah akan melapangkan rahmat dan rezeki
mereka. Unsuzyu maksudnya saling merendahkan hati untuk memberi kesempatan
kepada setiap orang yang datang. Yarfa’illahu ladzina amanu, maksudnya Allah
akan mengangkat derajat mereka yang telah memuliakan dan memiliki dan memiliki
ilmu di akhirat pada tempat yang khusus sesuai dengan kemulian dan ketinggian.
2.
Analisis
Struktur Kata dalam Kalimat
(يَاأَيُّهَا) ياء حرف نداء أي منادي نكرة مقصودة مبني على الضم والهاء للتنبيه
(الذين)
اسم موصول بدل من أي
(امنوا) فعل
ماض والفاعل ضمير مستتر فيه جوز تقدره هم والجملة صلة الموصول
(اذ) ظرف لما يستقبل من الزمن خافض لشرطه
منصوب بجوابه
(قيل) فعل ماض مبنى للمجهول
(لكم) اللام حرف جر اصلي كم مجرور بالام مبنى على
سكون فى محل جر
(تفسحوا) فعل امر مبنى على سكون فى اخره . والفاعل ضمير
مستتر فيه وجوب تقدره انت
(في المجالس) جر مجرور
(فافسحوا) الفاء رابطة افسحوا فعل امر مبنى على
سكون فى اخره . والفاعل ضمير مستتر فيه وجوب تقدره انت. والجملة جواب شرط لا محل لها من الاعراب
(يَفْسَحِ) فعل مضارع مجزوم الطلب
(الله) لفظ
الجلالة فاعل يفسح مرفوع بالضمة لانه اسم المفرد
(لكم) اللام حرف جر اصلي كم مجرور بالام مبنى على
سكون فى محل جر
(واذ) الواو حرف عطف ظرف لما يستقبل من الزمن خافض
لشرطه منصوب بجوابه
(قيل) فعل ماض مبنى للمجهول
(انْشُزُوا) فعل امر مبنى على سكون فى اخره . والفاعل ضمير مستتر فيه وجوب تقدره
انت
(فَانْشُزُوا) الفاء رابطة
افسحوا فعل امر مبنى على سكون فى اخره . والفاعل ضمير مستتر فيه وجوب تقدره انت. والجملة جواب
شرط لا محل لها من الاعراب
(يَرْفَعِ) فعل
مضارع مجزوم الطلب
(اللَّهُ) لفظ
الجلالة فاعل يفسح مرفوع بالضمة لانه اسم المفرد
(الَّذِينَ) اسم موصول مفعول به مبنى على فتح في محل بصب
(آمَنُوا) فعل
ماض والفاعل ضمير مستتر فيه جوز تقدره
(مِنْكُمْ) من
حرف جر اصلي كم مجرور بمن مبنى على
سكون فى محل جر
(وَالَّذِينَ) الواو حرف عطف اسم موصول
معطوف
(أُوتُوا)
فعل ماض مبنى للمجهول ونائب الفاعل
ضمير مستتر فيه وجوب تقدره هم
(الْعِلْمَ) مفعول به منصوب بالفتحة لانه اسم المفرد
(دَرَجَاتٍ) منصوب بنزع الخافض
(وَاللَّهُ) الواو حرف عطف الله مبتداء مرفوع بالضمة لانه
اسم المفرد
(بِمَا) الباء
حرف جر اصلي ما موصول مبنى على سكون
فى محل جر
(تَعْمَلُونَ) فعل مضارع مرفوع
بثبوت النون والفاعل ضمير
مستتر فيه وجوب تقدره انتم
(خَبِيرٌ) خبر
المبتداء مرفوع بالضمة لانه
اسم المفرد
3.
Analisis Makna Tarbiyah dalam QS. Al Mujadalah Ayat 11
Manurut Nata, Abuddin (2002, hlm. 153) dari ayat ini dapat
diketahui tiga hal, yakni:
a.
Bahwa
para sahabat berupaya ingin saling mendekat pada saatt berada di majelis
Rasulullah saw. Dengan tujuan agar ia dapat mudah mendengar wejangan dari
Rasulullah saw. Yang diyakini bahwa dalam wejangan itu terdapat kebaikan yang
amat dalam serta keistimewaan yang agung.
b.
Bahwa
perintah untuk saling meluangkan dan meluaskan tempat ketika berada di majelis,
tidak saling berdesakan dan berhimpitan dapat dilakukan sepanjang dimungkinkan,
karena cara demikian dapat menimbulkan keakranban di antara sesama orang yang
berada di dalam majelis dan bersama-sama dapat mendengar wejangan-wejangan
Rasulullah saw.
c.
Bahwa
pada setiap orang yang memberikan kemudahan kepada hamba Allah yang ingin
menuju pintu kebaikan di dunia dan di akhirat. Singkatnya ayat ini berisi
perintah untuk memberikan kelapangan dalam mendatangkan setiap kebaikan dan
memberikan rasa kebahagian kepada setiap orang Islam.
Ayat ini juga merupakan suatu motivasi untuk manusia agar menghiasi keimanannya dengan
mempunyai pengetahuan. Pengetahuan dapat diperoleh dengan mencaari ilmu .
Selain hukum mencari ilmu itu wajib, dengan ilmu manusia akan ditinggikan
derajatnya. Baik derajat dalam segi pahala ataupun dalam segi keridhoan Allah
swt.
F.
Keutaman Ilmu
Syaikh Az-Zarnuji (dalam Thaifuri, 2008, hlm.6) mengemukakan
keutamaan atau pentingnya ilmu pengetahuan yang tidak ada seorangpun yang
meragukan, kaena ilmu itu merupakan sesuatu yang khusus diberikan pada manusia.
Sebab segala hal selain ilmu itu bisa dimiliki manusia dan bisa juga bisa
dimiliki binatang, seperti keberanian, ketegasan, kekuatan, kedermawanan, kasih
sayang dan yang lainnya.
Dengan adanya ilmu pengetahuan, Allah memberikan keunggulan kepada
Nabi Adam as atas para Malaikat. Oleh karenanya, malaikat diperintah untuk
bersujud kepada Nabi Adam. Sesungguhnya keutamaan ilmu adalah sebagai perantara
menuju ketakwaan yang akan menyebabkan seseorang berhak mendapatkan kemulian di
sisi Allah swt.
Dalam kitab Usfuriyah terdapat hadits sebagai berikut:
Dari Ibrahim dari Alqamah dari Abdullah bin Mas’ud r.a. ia berkata,
Rasulullah saw. Bersabda “Membaca Al Qur’an
itu amal orang-orang yang dilindungi, salat itu amal orang-orang yang tak
berdaya, puasa itu amal orang miskin, tasbih itu amal orang perempuan, sedekah
itu amal yang murah hati dan tafakkur itu amal oang yang lemah. Maukah
Kutunjukkan kepada kalian amal para pahlawan?” Ada yang bertanya, “Ya
Rosulullah, apakah amal para pahlawn itu?” Beliau menjawab, “Menuntut Ilmu,
karena ia adalah cahaya orang mukmin di dunia dan di akhirat”. “Aku adalah kota ilmu sedangkan Ali adalah
pintunya. Ketika kaum Khawarij mendengar hadis ini, mereka membenci Ali dan
berkumpullah sepuluh orang pemuka mereka. Mereka berkata, “Kita akan menanyakan
satu masalah dan melihat bagaimana Ali menjawab kita. Seandainya ia menjawab
masing-masing dari kita dengan jawaban lain, tahulah kita bahwa ia orang alim
sebagaimana dikatakan oleh Nabi Saw.
Seorang kaum Khawarij mendengar hadis ini, mereka membenci Ali dan
berkumpullah sepuluh orang pemuka mereka. Mereka berkata, “Kita akan menanyakan
satu masalah dan melihat bagaimana Ali menjawab kita. Seandainya ia menjawab
masing-masing dari kita dengan jawaban lain, tahulah bahwa ia orang alim
sebagaimana dikatakan oleh Nabi Saw.
Seorang diantara mereka datang kepada Ali dan bertanya, “Hai Ali mana yang lebih baik, ilmu atau harta?” Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta. “Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?” Ali menjawab, “Ilmu itu warisan para Nabi dan harta itu warisan Qarun, Syaddad, Fir’aun dan lainnya. Kemudian pergilah orang itu. Datang lagi seorang yang lain, lalu bertanya seperti yang pertama. Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta. “Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?” Ali menjawab, “Ilmu menjagamu sedang engkau menjaga harta.” Kemudian pergilah orang itu.
Seorang diantara mereka datang kepada Ali dan bertanya, “Hai Ali mana yang lebih baik, ilmu atau harta?” Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta. “Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?” Ali menjawab, “Ilmu itu warisan para Nabi dan harta itu warisan Qarun, Syaddad, Fir’aun dan lainnya. Kemudian pergilah orang itu. Datang lagi seorang yang lain, lalu bertanya seperti yang pertama. Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta. “Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?” Ali menjawab, “Ilmu menjagamu sedang engkau menjaga harta.” Kemudian pergilah orang itu.
Datang lagi seorang yang lain, lalu bertanya seperti yang pertama
dan kedua. Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta. “Orang itu bertanya,
“Dengan dalil apa?” Ali menjawab, “Pemilik harta mempunyai banyak musuh dan
pemilik ilmu mempunyai banyak teman.” Kemudian pergilah orang itu. Datang lagi
seorang yang lain, lalu bertanya, “Mana yang lebih baik, ilmu atau harta?” Ali menjawab,
“Ilmu lebih baik daripada harta. “Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?” Ali
menjawab, “Apabila kau belanjakan hartamu, ia akan berkurang dan jika engkau
amalkan ilmumu ia akan bertambah.” Kemudian pergilah orang itu. Datang lagi
seorang yang lain, lalu bertanya, “Mana yang lebih baik, ilmu atau harta?” Ali
menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta. “Orang itu bertanya, “Dengan dalil
apa?” Ali menjawab, “Pemilik harta bisa di panggil si pelit dan menjadi hina,
sedangkan pemilik ilmu dipanggil dengan sebutan agung dan mulia.” Kemudian
pergilah orang itu. Datang lagi seorang yang lain, lalu bertanya, “Mana yang
lebih baik, ilmu atau harta?” Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta.
“Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?” Ali menjawab, “Pemilik harta akan
dihisab pada hari kiamat, sedangkan pemilik ilmu akan member syafaat pada hari
kiamat.”
Kemudian pergilah orang itu. Datang lagi seorang yang lain, lalu
bertanya, “Mana yang lebih baik, ilmu atau harta?” Ali menjawab, “Ilmu lebih
baik daripada harta. “Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?” Ali menjawab,
“Harta itu makin lama didiamkan makin bertambah using, sedangkan ilmu tidak
bisa lapuk dan usang.” Kemudian pergilah orang itu.
Datang lagi seorang yang lain, lalu bertanya, “Mana yang lebih
baik, ilmu atau harta?” Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta. “Orang
itu bertanya, “Dengan dalil apa?” Ali menjawab, “Harta itu bisa membuat hati
menjadi keras, sedangkan ilmu menerangi hati.” Kemudian pergilah orang itu.
Datang lagi seorang yang lain, lalu bertanya, “Mana yang lebih baik, ilmu atau harta?” Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta. “Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?” Ali menjawab, “Pemilik harta dikatakan sebagai pemilik dengan sebab harta, sedangkan orang yang berilmu mengaku sebagai hamba (Allah).”
Andaikata mereka bertanya tentang ini, niscaya akan kujawab dengan
jawaban lain selama aku masih hidup. Kemudian datanglah mereka dan menyerah
semua.
Setelah memahami hadits di atas, penulis menyimpulkan bahwa ilmu
jauh lebih baik ketimbang harta. Selain itu penulis menyimpulkan 10 keutamaan ilmu, yakni sebagai berikut:
1.
Harta
merupakan warisan dari Qorun dan Fir’aun sedangkan ilmu merupkan warisan para
nabi.
2.
Ilmu
menjaga sedangkan harta dijaga.
3.
Orang
yanan bertambah.g memiliki harta banyak musuh sedangkan orang yang memiliki
ilmu banyak teman.
4.
Jika
diberikan harta akan habis sedangkan ilmu akan bertambah.
5.
Orang
yang mempunyai harta dipanggil dengan sebutan pelit. Sedangkan orang yang
memiliki ilmu akan dipanggil dengan sebutan agung dan mulia.
6.
Harta
dijaga dari pencuri, sedangkan ilmu tidak bisa dicuri.
7.
Orang
yang mempunyai harta akan dihisab pada hari qiyamah sedangkan orang yang
mempunyai ilmu akan memberi pertolongan.
8.
Harta
akan rusak dengan lamanya waktu sedangkan ilmu tidak akan rusak.
9.
Harta
akan mengeraskan hati sedangkan ilmu akan menerangi hati.
10.
Orang
yang mempunyai harta akan mengakui pangkat tuhan sedangkan orang yang mempunyai
ilmu akan mengakui sebagai hamba.
Kemudian menurut Rifki dalam
blognya menjelaskan bahwa ilmu terdiri dari 3 huruf yang masing-masing
mempunyai arti filisofi sendiri, yakni sebagai berikut:
Huruf ‘ain ditulis dengan
bentuk seperti membuka mulut lebar-lebar. Itu maksudnya bahwa setiap muslim
harus rakus terhadap ilmu. Tanpa batas waktu dan tak ada kata terlambat.
Menuntut ilmu itu dimulai sejak buaian hingga masuk ke liang lahad.
Huruf lam, yang
tegak seperti menara atau tugu yang menjulang tinggi, melambangkan bahwa
orang-orang yang memiliki ilmu itu akan diangkat oleh Allah derajatnya
tinggi-tinggi. Kedudukannya akan lebih mulia daripada orang yang awam.
Huruf mim dengan
ujung ke arah bawah melambangkan bahwa setiap orang yang berilmu, makin ting`gi
ilmunya, ia akan semakin rendah hati dan jauh dari sifat angkuh dan sombong.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Ilmu merupakan kata yang berasal dari bahasa arab yang artinya
pengetahuan dan bentuk mashdar dari fi’il tsulasi mujarod علم يعلم علم . Secara
lebih jelas ilmu dapat didefinisikan sebagai
pengetahuan tentang teori beserta penjelasannya.
QS. Thaha ayat 114 memiliki makna
hendaknya seorang penuntut ilmu hendaknya untuk tidak menuntut ilmu dengan
tergesa-gesa. Karena mencari ilmu itu tidak cukup dengan waktu yang singkat. Serta
berdoa ketika hendak menuntut ilmu untuk mengingat bahwa pada hakikatnya Allahlah
yang menambahkan ilmu kita.
QS. An Naml ayat 15 memiliki makna
bahwa kita harus senantiasa bersyukur kepada Allah yang telah memberikan
ilmu-Nya kepada kita. Bersyukur disini tidak hanya dengan ucapan, melainkan
dengan pengimplementasiannya.
QS. Al- Qashash ayat 14 memiliki makna bahwa
seorang yang berilmu hendaklah berbuat baik seperti apa yang telah Nabi Musa
Contohkan. Karena sesungguhnya Allah akan memberi ilmu kepada yang berbuat
baik.
QS. Al Mujadalah ayat 11 memiliki
makna bahwa seorang yang memiliki ilmu hendaknya melapangkan tempat ketika
berada di dalam majelis. Selain tempat ia juga harus melapangkan hati. Kelapangan
dalam mendatangkan setiap kebaikan dan memberikan rasa kebahagian kepada setiap
orang Islam.
Keutamaan ilmu adalah sebagai perantara menuju ketakwaan yang akan
menyebabkan seseorang berhak mendapatkan kemulian di sisi Allah swt.
Di samping itu kita sebagai yang memiliki ilmu hendaknya memiliki
sifat kerendahan hati sebagaimana yang terkandung dalam huruf mim pada lapad علم.
B.
Rekomendasi
Dari uraian
yang telah penulis paparkan, disarankan pembaca dapat mempelajarinya dan
menjadikannya sebagi pedoman, sebagaimana diketahui bahwa materi ini merupakan
salah satu bahan untuk bagaimana sikap seorang yang beilmu. Untuk pengembangan
lebih lanjut penulis juga menyarankan pembaca agar mencari referensi yang
lainnya. Selain itu penulis juga sarankan agar ketika akan menyusun makalah
tentang tafsir ayat-ayat Allah agar sering bertanya kepada orang yang lebih
ahli dalam ilmu tafsir ini.
Mungkin inilah yang dapat dituliskan pada penulisan makalah
ini meskipun penulisan ini jauh dari sempurna. Masih banyak kesalahan dari
penulisan makalah ini, karna manusia
adalah tempat salah dan dosa, dan penulis juga butuh saran agar bisa menjadi motivasi
untuk membuat makalah yang lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah. 2003.
Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5. Bogor. Pustaka Imam Asy Syafi’i.
Al-Hamid, Zeid
Husein. 2012. Terjemah Petuah Usfuriyah. Surabaya: Mutiara Ilmu.
Nata, Abuddin.
2002. Tafsir Ayat-ayat Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Quthb, Sayyid.
2004. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Jilid 11. Jakarta: Gema Insani.
Quthb, Sayyid.
2004. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Jilid 8. Jakarta: Gema Insani.
Quthb, Sayyid.
2004. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Jilid 9. Jakarta: Gema Insani.
Rifki. 2013.
Ain Lam Mim [online]. Tersedia: https://jampang.wordpress.com/2013/11/09/ain-lam-mim/ . [3 Maret 2017].
Shihab, M.
Quraish. 2009. Tafsir Al Misbah Volume 13. Jakarta: Lentera Hati.
Shihab, M.
Quraish. 2009. Tafsir Al Misbah Volume 9. Jakarta: Lentera Hati.
Sigit
Suhandoyo. 2014. Hakikat Ilmu dalam Al-Qur’an [online]. Tersedia: http://sigitsuhandoyo.blogspot.co.id/2014/04/hakikat-ilmu-dalam-al-quran.html. [5 Maret 2017].
Tafsir, Ahmad.
2012. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: PT Rosdakarya Offset.
Thaifuri,
Muhammadun. 2008. Pedoman Belajar bagi Penuntut Ilmu secara Islami (Terjemah
Ta’lim Muta’alim). Surabaya: Menara Suci.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar