Jumat, 07 April 2017

Makalah Tafsir Tarbawiy



HAKIKAT ILMU dalam AL-QURAN

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah tafsir tarbawiy

Dosen pengampu:

Drs. H. Dudung Rahmat Hidayat, M. Pd








Disusun oleh:
Mina Milatun Napisah 1504072


DEPARTEMEN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2017



KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah Swt yang telah mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya, serta senantiasa memberikan kekuatan kepada penulis dalam menyusun dan menyelesaikan makalah yang berjudul Hakikat Ilmu dalam Al-Qur’an. Shalawat serta salam semoga selalu terlimpah curahkan kepada Rasulullah Saw, kepada keluarga-Nya, para sahabat-Nya, dan semoga sampai kepada kita selaku umat-Nya.
Penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan makalah ini khususnya kepada Bapak Dr. H. Dudung Rahmat Hidayat, M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Tafsir Tarbawi Universitas Pendidikan Indonesia atas segala bimbingannya, bantuannya, dorongannya, sehingga makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah ini ditulis dengan tujuan untuk berbagi ilmu dan membantu mahasiswa untuk mengetahui hakikat ilmu dalam Al Qur’an. Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna. Karena keterbatasan ilmu dan pengetahuan penulis, maka kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan. Akhir kata, penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk para pembaca dan semoga menjadi amal jariyyah penulis.

Bandung, 5 Maret  2017

                                                                                           Penulis






DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ………..………………………………………………… i
DAFTAR ISI ………..………………………………………………….............  ii
BAB I PENDAHULUAN .….……………..…………………………………… 1
A.    Latar Belakang Penelitian ……………………………….………………. 1
B.     Rumusan Masalah …………….…………………………………...…….. 2
C.     Tujuan Penulisan... .…………...……...……..………………....................2
D.  Manfaat Penulisan........................................................................................3
E.   Metode Penulisan.........................................................................................3
F.    Sistematika Penulisan..................................................................................3
BAB II PEMBAHSAN.…….……………………………………........................ 4
A.       Pengertian Ilmu..............……………………………......……………….. 4
B.     Tafsir QS. Thaha ayat 114
1. Tafsir QS. Thaha ayat 114.......................................................................5
2. Analisis Struktur Kata dalam Kalimat..................................…………...6
3.   Analisis Makna Tarbiyah........................................................................7
C.     Tafsir QS. An-Naml ayat 15
1.      Tafsir QS. An-Naml ayat 15..................................................................8
2.      Analisis Struktur Kata dalam Kalimat...................................................9
3.      Analisis Makna Tarbiyah.....................................................................11
D.    Tafsir QS. Al-Qashash ayat 14
1.      Tafsir QS. Al-Qashash ayat 14.............................................................12
2.      Analisis Struktur Kata dalam Kalimat.................................................13
3.      Analisis Makna Tarbiyah.....................................................................14
E.     Tafsir QS. Al-Mujadalah ayat 11
1.      Tafsir QS. Al-Mujadalah ayat 11.........................................................15
2.      Analisis Struktur Kata dalam Kalimat.................................................17
3.      Analisis Makna Tarbiyah.....................................................................20
F.      Keutamaan Ilmu.........................................................................................21


BAB III PENUTUP................................................................................................25
A.      Kesimpulan..............................................................................................25
B.       Rekomendasi............................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………….....27




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang berbeda dengan makhluk ciptaan Allah lainya. Sudah ma’lum mengapa manusia berbeda dengan makhluk lainnya, yaitu karena manusia makhluk ciptaan Allah yang mempunyai akal. Dengan akal manusia dapat berpikir dan berproses. Sebagai contoh pada zaman dahulu manusia belum mengetahui bagaimana cara mereka menemui kerabat dengan waktu yang cepat dan tidak menghamburkan tenaga. Tapi lihatlah sekarang manusia dapat membuat benda yang mempermudah urusan mereka, seperti mobil, motor, bahkan kapal yang bertranfortasi di langit seperti halnya burung.
Semua perkembangan dan kemajuan manusia tidak terlepas dari yang namanya ilmu atau pengetahuan. Mulai dari ilmu agama sampai ilmu pengetahuan umum. Tidak berbeda dengan manusia ilmu juga mengalami banyak perkembangan dan kemahuan. Khususnya kemajuan yang dicapai para ilmuan Muslim seperti Ibnu Sina. Beliau merupakan orang yang sangat berjasa dalam ilmu kedokteran. 
Di kalangan umat Islam ilmu pengatahuan mulai bangkit  kembali pada abad modern sampai sekarang. Hal ini dipengaruhi oleh kemajuan yang dicapai oleh masyarakat Barat dan Eropa. Kemudian timbul kesadaran untuk melepaskan diri dari penjajahan. Oleh karena itu umat Islam perlu memiliki kekuatan dalam bidang mental, ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejak saat itu umat islam mulai mengjkaji secara seksama terhadap ayat-ayat Al Qur’an yang mempunyai hubungan dengan ilmu pengetahuan.  
Menurut Sigit Suhandoyo dalam blognya, Al Qur’an al karim menduduki ilmu dalam Islam pada posisi yang tinggi. Ilmu dipandang sebagai salah satu unsur pembentuk kepribadian manusia dan merupakan sebuah jalan yang menghantarkan manusia dalam posisi yang terhormat. Hal ini sejalan dengan Firman Allah dalam QS. Al Mujadalah ayat 11 “….niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Oleh karena itu penulis mencoba memahami dan kemudian menyajikannya dalam sebuah makalah yang berjudul “Hakikat Ilmu dalam Al- Qur’an”. 

B. Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian ilmu secara umum?
2.      Bagaimana hakikat ilmu dalam Al-Qur’an?
3.      Bagaimana tafsir dari QS. Thaha ayat 114, An Naml ayat 15, Al Qashash dan QS. Al Mujadalah ayat 11?
4.      Bagaimana analisis kata dari QS. Thaha ayat 114, An Naml ayat 15, Al Qashash dan QS. Al Mujadalah ayat 11?
5.      Bagaimana analisis makna tarbiyah dalam QS. Thaha ayat 114, An Naml ayat 15, Al Qashash dan QS. Al Mujadalah ayat 11?
6.      Bagaimana keutamaan-keutamaan ilmu?

B.     Tujuan

1.      Untuk mengetahui pengertian ilmu secara umum?
2.      Untuk mengetahui bagaimana hakikat ilmu dalam Al-Qur’an?
3.      Untuk mengetahui bagaimana tafsir dari QS. Thaha ayat 114, An Naml ayat 15, Al Qashash dan QS. Al Mujadalah ayat 11?
4.      Untuk mengetahui bagaimana analisis kata dari QS. Thaha ayat 114, An Naml ayat 15, Al Qashash dan QS. Al Mujadalah ayat 11?
5.      Untuk mengetahui bagaimana analisis makna tarbiyah dalam QS. Thaha ayat 114, An Naml ayat 15, Al Qashash dan QS. Al Mujadalah ayat 11?
6.      Untuk mengetahui bagaimana keutamaan Ilmu?



C.    Manfaat
Manfaat teoritis dari penulisan mkalah ini yaitu dapat menambah wawasan keilmuan dan pemahaman mendalam mengenai definisi ilmu secara umum dan hakikat ilmu dalam Al-Qur’an khususnya pada QS. Thaha ayat 114, An Naml ayat 15, Al Qashash dan QS. Al Mujadalah ayat 11. Sedangkan manfaat praktisnya yaitu semoga makalah ini bisa menjadi salah satu referensi tambahan bagi pemabaca yang hendak mengkaji ulang secara mendalam mengenai hakikat ilmu dalam Al Qur’an dan pada khususnya semoga makalah ini menjadi suatu pemahaman yang melekat pada diri kita sebagai calon seorang guru.

D.    Metode Penulisan

Metode penulisan makalah ini adalah studi pustaka. Dimana informasi yang penulis peroleh berasal dari  beberapa kitab, buku dan artikel di internet yang berhubungan dengan materi yang dipaparkan. Penulis membaca dan mempelajarinya, lalu memilah setiap informasi yang diperoleh untuk kemudian ditungkan dalam makalah ini.

E.     Sistematika Penulisan

Makalah ini dibuat dengan menggunakan sistematika makalah tiga bab yang teridiri atas (1) pendahuluan (2) pembahasan (3)penutup.







BAB II
PEMBAHASAN


A.  Pengertian Ilmu
Ilmu berasal dari Bahasa Arab yaitu علم  yang artinya pengetahuan. Sumber lain mengatakan bahwa ‘ilm adalah bentuk dari masdar dari علم يعلم علم . Dalam buku Abuddin Nata yang berjudul Tafsir Ayat-ayat Pendidikan (2002, hlm. 155) terdapat beberapa pendapat tentang kata ilmu, yaitu sebagai berikut:
1.    Ibn Zakaria kata ‘ilm mempunyai arti denotatif yang artinya bekas sesuatu yang dengannya dapat dibedakan sesuatu dari yang lainnya
2.    Ibn Manzur, ilmu adalah antonim dari tidak tahu atau naqid al-jahl
3.    Al-Asfahani dan Al-Anbari, ilmu adalah mengetahui hakikat sesuatu
Sedangkan dalam KBBI ilmu berarti pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu. Menurut Syaikh Az-Zarnuji (dalam Thaifuri, 2008, hlm.13) mengemukakan bahwa ilmu adalah suatu sifat yang dengannya dapat menjadi jelas pengertian suatu hal yang dimaksud. Kemudian Tafsir, Ahmad (2012, hlm. 17) menambahkan bahwa isi ilmu bukan hanya kumpulan teori, akan tetapi isi lainnya adalah penjelasan tentang teori itu dan data yang mendukung penjelasan itu.
Setelah membaca dan memahami beberapa pendapat di atas, penulis menyimpulkan bahwa ilmu merupakan kata yang berasal dari bahasa arab yang artinya pengetahuan dan bentuk mashdar dari fi’il tsulasi mujarod علم يعلم علم .  Secara lebih jelas ilmu dapat didefinisikan sebagai  pengetahuan tentang teori beserta penjelasannya. 

B.   QS. Thaha Ayat 114

1.    Tafsir QS. Thaha Ayat 114

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ وَلا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Dan janganlah engkau (Muhammad) tergesa-gesa (membaca) Al-Qur’an sebelum selesai diwahyukan kepadamu, dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.”

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa terdapat Hadits Shahih yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah pernah mengalami kesulitan pada waktu menerima wahyu yang sempat menggerakan lidahnya. Lalu Allah menurunkan ayat ini, yakni jika Rasulullah didatangi oleh Jibril dengan membawa wahyu, setiapkali dibacakan satu ayat oleh Jibril maka beliau mengucapkannya bersama dengannya karena kegigihan beliau dalam membimbing Al Qur’an. Lalu Allah membimbing beliau kepada yang lebih mudah dan ringan agar beliau tidak merasa kesulitan.

Dan di dalam surat Thaha ini Allah berfirman “Dan janganlah engkau (Muhammad) tergesa-gesa (membaca) Al-Qur’an sebelum selesai diwahyukan kepadamu”, maksudnya hendaklah kamu dengar dulu dan jika malaikat sudah selesai membacakannya kepadamu, maka bacalah setelah itu. “Dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” Artinya, tambahkanlah ilmu  kepadaku dari sisi-Mu.

Ibnu ‘Uyainah Rahimallohu ‘Anhu berkata “Rasulullah saw.. Bertambah ilmunya sampai hari kewafatannya”. Sedangkan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Ia menuturkan Rasulullah saw. Bersabda:

اللهم انفعني بما علمتني،وعلمني ما ينفعني،وزدني علما، والحمدلله على كل حال
“Ya Allah, jadikanlah apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku itu bermanfaat bagiku, dan ajarkanlah apa yang bermanfaat bagiku serta tambahkanlah ilmu kepadaku. Segala puji bagi Allah atas segala keadaan”.

Tidak banyak berbeda dengan penjelasan tersebut, dalam tafsir fi zhilalil disebutkan sebagai berikut:
Maka maha tinggi Allah, raja yang sebenar-benarnya yang tunduk kepada-Nya seluruh wajah yang merugi dihadapan-Nya para penzalim, dan yang merasa aman dibawah lindunganNya orang-orang mukmin yang saleh. Dialah yang menurunkan Al Qur’an ini disisi-Nya yang tinggi karena-Nya janganlah lisanmu tergesa-gesa mengucapkannya. Al quran diturunkan untuk hikmah tertentu, tidak mungkin Allah menyia-nyiakannya.
Yang seharusnya kamu lakukan adalah berdoa kepada tuhanmu agar dia menambahkan ilmu kepadamu, dan engkau tenang dengan apa yang diberikan Allah kepadamu. Kamu jangan khawatir Al Qur’an itu pergi. Ilmu itu tiada lain adalah yang diajarkan Allah kepadanya. Yang bermanfaat pasti akan tetap dan tidak akan hilang. Dia akan berbuah dan tidak akan gosong.
                                                                                                                               
2.    Analisis Struktur Kata dalam Kalimat

(فَتَعَالَى ) الفاء استئنافية تعالى فعل ماض مبنى على فتح المقدر
(الله)       لفظ الجلالة فاعل تعالى مرفوع بالضمة لانه اسم المفرد
(الملك الحق)       صفتان مرفوعتان والجملة استئنافية
(ولا تعجل)        الواو عاطفة ولا ناهية فعل مضارع مجزوم بلا الناهية والفاعل ضمير مستتر فيه وجوب تقدره انت
(بالقرأن) الباء حرف جر اصلي القرأن مجرور بالباء مجرور بالكسرة لانه اسم مفرد
(من قبل) من حرف جر اصلي قبل مجرور بمن مجرور بالكسرة لانه اسم مفرد
(ان يقضى)        حرف نصب يقضى فعل مضارع مبنى للمجهول
(اليك)                الى حرف جر اصلي ك مجرور ب الى مبنى على فتح فى محل جر
(وحيه)    نائب الفاعل  مرفوع بالضمة لانه اسم المفرد . وحي مضاف الهاء ضمير متصل مضاف اليه مبني على ضم فى محل جر
(وقل)      الواو حرف عطف قل فعل امر مبنى على سكون فى اخره . والفاعل ضمير مستتر فيه وجوب تقدره انت. والجملة معطوف على ولا تعجل
(ربّ)      منادى بأداة نداء محذوفة منصوب على النداء وفضاف الى ياء المتكلم المحذوفة
(زدني)    فعل دعاء والنون وقاية والياء فى محل نصب مفعول به أول
(علما)مفعول به ثانى منصوب بالفتحة لانه اسم المفرد

3.    Analisis Makna Tarbiyah dalam QS. Thaha: 114

Ayat ini menjelaskan bahwa ketika Rasulullah sedang menerima wahyu dari Malaikat Jibril, Ia pernah mengalami kesulitan. Kemudian Allah memberi perintah kepada Nabi Muhammad agar tidak menerima wahyu secara tergesa-gesa. Maksudnya agar menerima wahyu dengan menunggu Malaikat Jibril selesai menyampaikannya. Walaupun pernah seperti itu dengan kegigihannya Malaikat berhasil membimbing Rasulullah dengan bantuan Allah yang telah menghilangkan kesulitan menjadi kemudahan. Selain itu,  ayat ini juga memerintahkan kepada Rasulullah untuk berdoa kepada Allah, dzat yang telah menambahkan ilmunya. Karena sesungguhnya Allahlah yang memberikan itu semua. Dalam hadits disebutkan doa Rasulullah, yakni:

اللهم انفعني بما علمتني،وعلمني ما ينفعني،وزدني علما، والحمدلله على كل حال
“Ya Allah, jadikanlah apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku itu bermanfaat bagiku, dan ajarkanlah apa yang bermanfaat bagiku serta tambahkanlah ilmu kepadaku. Segala puji bagi Allah atas segala keadaan”.

Oleh karena itu, ayat ini memiliki makna bahwa kita sebagai seseorang yang sedang menuntut ilmu untuk tidak melakukannya dengan tergesa-gesa. Karena mencari ilmu itu tidak cukup dengan waktu yang singkat. Apalagi kita tahu bahwa yang menambahkan ilmu kepada kita adalah Allah tuhan semesta Alam. Kita hanya bisa berikhtiyar untuk mencari ilmu dengan sebaik-baiknya dan tidak tergesa-gesa. Selain itu, kita sebagai hamba pasti telah mengetahui bahwa doa merupakan senjata kita dalam segala hal. Tidak berbeda ketika kita akan, sedang dan telah menuntut ilmu, yaitu hendak berdoa dengan apa yang telah Rasulullah contohkan. Karena itu merupakan salah satu hal yang dapat mempercepat doa kita diijabah oleh Allah.

C.  QS. An-Naml Ayat 15

1.    Tafsir QS. An-Naml Ayat 15

وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ عِلْمًا ۖ وَقَالَا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَىٰ كَثِيرٍ مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman".
Dalam Tafsir Al-Misbah dijelaskan bahwa kata كثير  bukan berarti kebanyakan, tapi berarti banyak. Ucapan beliau itu menunjukan kehati-hatian sekaligus mencerminkan kerendahan hati kedua Nabi yang sekaligus raja itu. Kata banyak sudah benar, walau jumlahnya hanya lebih dari dua orang, tetapi kalau dikatakan kebanyakan, itu paling tidak berarti lebih lima puluh persen dari jumlah seluruh oang-orang mukmin. Walaupun hal tersebut benar adanya buat kedua Nabi agung tersebut, bahkan Nabi Sulaiman as. dianugrahi kekuasaan yang tidak pernah akan dapat diraih oleh manusia sesudahnya, terasa kurang tepat bila mereka berkata kebanyakan dari orang-orang mukmin karena hal tersebut dalam mengesankan adanya pengetahuan beliau secara pasti tentang semua orang mukmin, di samping jika beliau berucap demikian terasa juga ada semacam kebanggan yang tidak tepat untuk diucapkan oleh seorang Nabi tanpa menggandengkannya dengan kalimat yang mengesankan kerendahan hati.
Kata الحمد لله  biasa diartikan segala puji bagi Allah. Kata حمد  berarti pujian, ia adalah ucapan yang yang ditujukan kepada yang dipuji atas sikap atau perbuatannya yang baik walau tidak memberi sesuatu kepada si pemuji. Di sini bedanya dengan kata syukur yang pada dasarnya digunakan untuk mengakui dengan tulus dan dengan penuh hormat pemberian yang dianugrahkan oleh siapa yang disyukuri itu kepada yang bersyukur. Kesyukuran itu bermula dalam hati yang kemudian melahirkan ucapan dan perbuatan.
Dua huruf, yaitu alif dan lam yang menghiasi kata hamd, oleh para pakar-pakar bahasa dinamai Alif lam Al Istighraq dalam arti mencakup segala sesuatu. Oleh karena itu al hamdu lillah sering kali  diterjemahkan dengan segala puji.
Kata لله  terangkai dari kata Allah yang didahului oleh huruf lam sehingga terbaca lillah. Huruf lam yang menyertai kata Allah mengandung makna pengkhususan bagi-Nya. Ini berarti al hamdu lillah berarti segala puji hanya khusus dipersembahkan kepada Allah swt. tidak kepada selainnya.
2.    Analisis Struktur Kata dalam Kalimat

(وَلَقَدْ(               الواو استئنافية واللام واقعة في جواب القسم
(آتَيْنَا(                فعل ماض والنون فاعل مبنى على سكون في محل رفع
(دَاوُودَ)    مفعول به اول منصوب بالفتحة لانه اسم المفرد والجملة جواب قسم لامحل لها من الاعراب
(وَسُلَيْمَانَ)          عطف والمعطوف
(عِلْمًا)     مفعول به  ثانى منصوب بالفتحة لانه اسم المفرد
(وَقَالَا)     فعل ماض والفاعل ضمير مستتر فيه جوز تقدره هما 
(الْحَمْدُ)    مبتداء مرفوع بالضمة لانه اسم المفرد
(لِلَّهِ)                  جر  مجرور خبر المبتداء والجملة مقول القول
(الَّذِي)     اسم موصول من الله مبني على سكون في محل جر لانه صفة من الله
(فَضَّلَنَا)   فعل ماض والفاعل ضمير مستتر فيه جوز تقدره هو و مفعول به مبني على سكون في محل نصب
(عَلَىٰ كَثِيرٍ)        جر  مجرور
(مِنْ عِبَادِهِ)         جر  مجرور الهاء ضمير متصل مضاف اليه مبني على كسر فى محل جر
(الْمُؤْمِنِينَ)          صفة من عباده مجرور بالياء لانه جمع المذكر السلم


3.    Analisis Makna Tarbiyah dalam QS. An-Naml Ayat 15

Ilmu yang dianugrahkan Allah kepada nabi daud dan Sulaiman as. Sungguh banyak dan unik. Nabi daud As. Misalnya dianugrahi kemampuan membuat perisai QS. Al anbiya 21:80 dan di ajarkan hikmah dan kemampuan menyelesaikan perselisihan QS. Shad 38: 20. Sedangkan Nabi Sulaiman as. disamping dianugrahi hikmah dan kemampuan memahami kasus-kasus perselisihan, juga antara lain kemampuan memahami bahasa/suara burung(baca ayat 16 surah ini).
Pada penjelasan di atas, disebutkan bahwa kedua Nabi yang merupakan anak dan Bapak itu mempunyai sifat kerendahan hati. Hal ini dibuktikan dengan kesadaran mereka atas anugrah yang telah Allah berikan. Nabi Sulaiman dan Nabi Daud bersyukur dengan mengucapkan lapadz al hamdu lillah yang berarti segala puji bagi Allah.
Sehingga ayat dia atas menuntun setiap ilmuan untk mengakui terlebih dahulu anugrah Allah atas ilmu yang dimilikinya, kemudian mensyukurinya, bukan saja dengan pengakuan lisan, tetapi juga dengan mengamalkan dan menyesuaikan diri dengan ilmu yang dimiliknya itu. Ayat diatas menggabungkan kesyukuran mereka berdua dalam satu kata yang berbentuk dual. Boleh jadi kesyukuran dan ucapannya itu merupakan ucapan bersama sebagai anak dan ayah dan kemungkinan yang lebih besar adalah masing-masing mengucapkan setiap saat walau setelah mereka berpisah dengan kematian Nabi Daud as.

D.  QS. Al-Qashash Ayat 14

1.    Tafsir QS. Al-Qashash Ayat 14
وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَىٰ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
“Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik”.
Dalam tafsir Al Misbah ayat di atas menegaskan bahwa: dan setelah dia mencapai kemantapan umurnya dan sempurna jasmani dan rohaninya, kami anugrahkan kepadanya hikmah, yakni kenabian atau kearifan, atau amal ilmiah dan pengetahuan, yakni ilmu amaliah. Dan demikianlah kami membalas al muhsinin, yakni orang-orang yang selalu berbuat baik.
Kata أشدّه terambil dari kata الأشدّ yang oleh sementara pakar dinilai sebagai bentuk jamak dari kata شدّ keras. Kata tersebut dipahami dalam arti kesempurnaan kekuatan. Berbeda pendapat ulama tentang usia kesempurnaan manusia. Ada yang menyatakan dua puluh tahun, tetapi kebanyakan menilai dimulai dari usia 33 tahun atau 35 tahun. Kata استوى  merupakan kata yang berfungsi menguatkan kata asyuddahu, tetapi pendapat yang lebih tepat adalah usia puncak kesempurnaan kekuatan. Dalam QS Al-Ahqof ayat 15, dinyatakan bahwa sehinga apabila dia mencapai asyaddahu dan mencapai empat puluh tahun.
Thabathaba’i (dalam Shihab 2009, hlm. 562) memahami bahwa حكما dalam arti ketepatan pandangan menyangkut subtansi satu persoalan dan kebenaran penerapannya. Dan ini pada akhirnya berarti keputusan yang benar menyangkut baik buruknya satu pekerjaan serta penerapan keputusan itu.
Sedangkan kata al muhsinin adalah jamak dari kata al muhsi. Kata ihsan menurut Al Harrali dalam dalam Shihab (2009, hlm. 562) adalah puncak kebaikan amal perbuatan. Terhadap hamba, ia tercapai saat seseorang memandang diri pada diri orang lain sehingga dia memberi untuknya apa yang seharusnya dia beri untuk dirinya. Sedang, ihsan antara hamba dengan Allah adalah leburnya dirinya sehingga dia hanya melihat Alah swt. Karena itu pula ihsan antara hamba dan sesama manusia adalah bahwa dia tidak melihat lagi dirinya dan hanya melihat orang lain itu. Siapa yang melihat dirinya pada posisi kebutuhan orang lain dan tidak melihat dirinya pada saat beribadah kepada Allah, dia itulah yang dinamai muhsin, dan ketika itu dia telah mencapai puncak dalam segala amalnya.
Sedangkan dalam Dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an disebutkan bahwa cukup umur bermakna sempurnanya kekuatan tubuhnya. Dan, sempurna akalnya bermakna kematangan anggota tubuh dan akalnya. Hal itu biasanya terjadi pada usia tiga pulih tahun. Apakah Musa tetap berada di istana Fir’aun, sebagai anak asuh? Ataukan Musa berpindah dengan keduanya dan meninggalkan istana, karena hatinya tidak tenang hidup di tengah kondisi seperti itu, yang tidak dapat dapat dinikmati oleh jiwa orang-orang yang dipilih oleh Allah seperti jiwa Musa?
Apalagi setelah ibunya memeberitahukannya tentang siapa jati dirinya, siapakah kaumnya, dan apa agamanya. Sementara ia menyaksikan kaumnya ditimpa berbagai penganiayaan, kezaliman, kerusakan yang paling buruk dan menyimpang di tengah kerajaan Fir’aun.
Kita tidak memiliki tentang hal itu. Namun, konteks kejadian-kejadian setelah ini memberikan sedikit kesan tentang hal itu. Komentar atas anugrah hikmah dan ilmu yang diberikan Allah kepada Musa pada kalimat “demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbua baik”.
Ayat ini menunjukan bahwa Nabi Musa telah berbuat baik. Sehingga Allah pun berbuat baik kepada Nabi Musa dengan menganugrahkannya Hikmah dan ilmu pengetahuan.

2.    Analisis Struktur Kata dalam Kalimat

(وَلَمَّا)               الواو استئنافية ولما ظرفية شرطية
 (بَلَغَ)      فعل ماض والفاعل ضمير مستتر فيه جوز تقدره هو
(أَشُدَّهُ) مفعول به  منصوب بالفتحة لانه اسم المفرد والهاء ضمير متصل مضاف اليه مبني على كسر فى محل جر
(وَاسْتَوَىٰ)          الواو حرف عطف , فعل ماض والفاعل ضمير مستتر فيه جوز تقدره هو
(آتَيْنَاهُ)     فعل ماض والفاعل والنون ضمير متصل فاعله مبني على سكون فى محل رفع  والهاء ضمير متصل مفعول به مبني على ضم  فى محل نصب
(حُكْمًا)    مفعول به  ثانى منصوب بالفتحة لانه اسم المفرد
(وَعِلْمًا)   عطف والمعطوف
(وَكَذَٰلِكَ)   الواوحرف استئناف الكاف حرف جر . ذلك اسم الاشرة  مجرور بالكاف مبنى على فتح في محل جر 
(نَجْزِي)   فعل ماض والفاعل ضمير مستتر فيه وجوب  تقدره نحن
(الْمُحْسِنِينَ)         مفعول به  منصوب بالياء لانه جمع المذكر السلم


3.    Analisis Tarbiyah dalam QS. Al-Qashash Ayat 14
Ketika itu Nabi Musa sudah cukup umur untuk menerima wahyu. Tentang cukup umur ini, banyak ikhtilaf. Ada yang menyebutkan pada saat 30 tahun, 33 tahun dan lain-lain. Selain itu, ada juga yang menyebutkan cukup umur disini bermakna sempurnanya kekuatan tubuhnya dan sempurna akalnya bermakna kematangan anggota tubuh dan akalnya. Singkat cerita Nabi Musa meninggalkan kerajaan Fir’aun karena menemukan banyak kejanggalan. Hal ini membuktikan bahwa beliau merupakan manusia pilihan Allah yang telah diberikan petunjuk.
Di ayat tersebut juga disebutkan bahwa Nabi Musa adalah seorang muhsin, yaitu yang telah berada dalam puncak kebaikan. Dikatakan demikian karena ketika ia membunuh salah satu dari kaum quthbi, ia merasa menyesal dan ia tidak berniat membunuhnya. Berkat kejadian itu Nabi Musa lebih dekat dengan Allah.
Setelah membaca dan memahami penjelasan tafsir di atas, penulis menyimpulkan bahwa kita sebagai orang yang sedang mencari ilmu, untuk berbuat baik. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Musa yang berada pada puncak kebaikan, telah diberi ilmu dan hikmah oleh Allah. Berbeda dengan kejadian Nabi Musa, pada hakikatnya kita berbuat baik hanya karena Allah. Tapi dibalik itu, sebagai manusia pencari ilmu dan In syaa Allah akan memiliki  ilmu meskipun sedikit kita berharap agar Allah memberi ilmu kepada kita. Bukan hanya sekedar ilmu tapi ilmu yang bermanfaat.

E.   QS. Al-Mujadalah Ayat 11

1.    Tafsir QS. Al-Mujadalah Ayat 11
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Dalam tafsir Al Misbah kata تفسّحوا  dan افسحوا  terambil dari kata فسح  yakni lapang. Sedangk kata  انشزوا  terambil dari kata نشوز  yakni tempat yang tinggi. Perintah tersebut pada mulanya berarti  beralih ke tempat yang tinggi.yang dimaksud disini pindah ke tempat lain  untuk memberi kesempatan kepada yang lebih wajar duduk atau berada di tempat yang wajar pindah itu atau bangkit melakukan satu aktivitas positif. Ada juga yang memahaminya berdirilah di rumah Nabi, jangan berlama-lama di sana, karena boleh jadi ada kepentingan Nabai saw. Yang lain dan yang perlu segera beliau hadapi.
Kata مجا لس  adalah bentuk jamak dari kata مجلس . Pada mulanya berarti tempat duduk. Dalam konteks ayat ini adalah tempat Nabi Muhammad saw. Memberi tuntunan agama ketika itu. Tetapi yang dimaksud disini adalah tempat keberadaan secara mutlak, baik pada tempat duduk, tempat berdiri, atau bahkan tempat berbaring. Karena, tujuan perintah atau tuntutan ayat ini adalah memeberi tempat yang wajar serta mengalah kepada orang-orang yang dihormati atau yang lemah.
Kemudian ayat di atas tidak menyebut secara tegas  bahwa Allah akan meniggikan derajat orang berilmu, Tetapi, menegaskan bahwa mereka memiliki derajat-derajat, yakni lebih tinggi  daripada yang sekedar beriman. Tidak disebutkan kata meninggikan itu sebagai isyarat bahwa sebenarnya ilmu yang dimilikinya itulah yang berperan besar dalam ketinggian derajat yang diperolehnya,bukan akibat dari faktor luar ilmu itu.
Yang dimaksud dengan الذين أوتو العلم  yang diberi pengeetahuan adalah mereka yang beriman dan menghiasi diri  mereka dengan pengetahuan. Ini berarti ayat di atas membagi kaum beriman kepada dua kelompok besar, yang pertama sekedar beriman dan beramal saleh dan yang kedua beriman dan beramal saleh serta memiliki pengetahuan. Derajat kelompok kedua ini menjadi lebih tinggi, bukan saja karena nilai ilmu yang disandangnya, tetapi juga amal dan pengajarannya kepada pihak lain, baik secara lisan, atau tulisan maupun dengan keteladanan.
Ilmu yang dimaksud oleh ayat di ats bukan saja ilmu agama, tetapi ilmu apapun yang bermanfaat. Dalam QS. Fathir ayat 27-28, Allah menguraikan sekian banyak mekhluk ilahi dan fenomena alam, lalu ayat tersebut ditutupindenagn menyatakan bahwa: yang takut dan kagum kepada Allah daari hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. Ini menunjukan bahwa ilmu dalam pandangan Al-Qur’an bukan hanya ilmu agma. Ini menunjukan bahwa ilmu dalam pandangan Al Qur’an bukan hanya ilmu agama. Dan ilmu juga harus menghasilkan khasyyah yakni rasa tajut dan kagum kepada Allah, yang pada gilirannya mendorong yang berilmu untuk mengamalkan ilmunya serta memanfaatkannya untuk kepentingan makhluk.
Sedangkan dalam buku Tafsir Ayat-ayat Pendidikan kata tafassahu pada ayat tersebut maksudnya adalah tawassa’u yaitu saling meluaskan dan mempersilahkan. Sedangkan kata yafsahillahillahu lakum maksudnya Allah akan melapangkan rahmat dan rezeki mereka. Unsuzyu maksudnya saling merendahkan hati untuk memberi kesempatan kepada setiap orang yang datang. Yarfa’illahu ladzina amanu, maksudnya Allah akan mengangkat derajat mereka yang telah memuliakan dan memiliki dan memiliki ilmu di akhirat pada tempat yang khusus sesuai dengan kemulian dan ketinggian.
2.    Analisis Struktur Kata dalam Kalimat
(يَاأَيُّهَا)    ياء حرف نداء أي منادي نكرة مقصودة مبني على الضم والهاء للتنبيه
(الذين)     اسم موصول بدل من أي
(امنوا)     فعل ماض والفاعل ضمير مستتر فيه جوز تقدره هم والجملة صلة الموصول
(اذ)         ظرف لما يستقبل من الزمن خافض لشرطه منصوب بجوابه
(قيل)      فعل ماض مبنى للمجهول
(لكم)       اللام حرف جر اصلي كم مجرور بالام مبنى على سكون فى محل جر
(تفسحوا) فعل امر مبنى على سكون فى اخره . والفاعل ضمير مستتر فيه وجوب تقدره انت
(في المجالس) جر مجرور
(فافسحوا)          الفاء رابطة افسحوا فعل امر مبنى على سكون فى اخره . والفاعل ضمير مستتر فيه وجوب تقدره انت. والجملة جواب شرط  لا محل لها من الاعراب 
(يَفْسَحِ)    فعل مضارع مجزوم الطلب
(الله)       لفظ الجلالة فاعل يفسح مرفوع بالضمة لانه اسم المفرد
(لكم)       اللام حرف جر اصلي كم مجرور بالام مبنى على سكون فى محل جر
(واذ)       الواو حرف عطف ظرف لما يستقبل من الزمن خافض لشرطه منصوب بجوابه
(قيل)      فعل ماض مبنى للمجهول
(انْشُزُوا)  فعل امر مبنى على سكون فى اخره . والفاعل ضمير مستتر فيه وجوب تقدره انت
(فَانْشُزُوا)          الفاء رابطة افسحوا فعل امر مبنى على سكون فى اخره . والفاعل ضمير   مستتر فيه وجوب تقدره انت. والجملة جواب شرط  لا محل لها من الاعراب 
(يَرْفَعِ)     فعل مضارع مجزوم الطلب
(اللَّهُ)       لفظ الجلالة فاعل يفسح مرفوع بالضمة لانه اسم المفرد
(الَّذِينَ)     اسم موصول مفعول به مبنى على فتح في محل بصب 
(آمَنُوا)     فعل ماض والفاعل ضمير مستتر فيه جوز تقدره
(مِنْكُمْ)     من حرف جر اصلي كم مجرور بمن مبنى على سكون فى محل جر
(وَالَّذِينَ)   الواو حرف عطف اسم موصول معطوف
(أُوتُوا)     فعل ماض مبنى للمجهول ونائب الفاعل ضمير مستتر فيه وجوب تقدره هم
(الْعِلْمَ)     مفعول به منصوب بالفتحة لانه اسم المفرد
(دَرَجَاتٍ) منصوب بنزع الخافض
(وَاللَّهُ)      الواو حرف عطف الله مبتداء مرفوع بالضمة لانه اسم المفرد
(بِمَا)       الباء حرف جر اصلي ما موصول مبنى على سكون فى محل جر
(تَعْمَلُونَ) فعل مضارع مرفوع بثبوت النون والفاعل ضمير مستتر فيه وجوب تقدره انتم
(خَبِيرٌ)     خبر المبتداء مرفوع بالضمة لانه اسم المفرد

3.    Analisis Makna Tarbiyah dalam QS. Al Mujadalah Ayat 11

Manurut Nata, Abuddin (2002, hlm. 153) dari ayat ini dapat diketahui tiga hal, yakni:
a.    Bahwa para sahabat berupaya ingin saling mendekat pada saatt berada di majelis Rasulullah saw. Dengan tujuan agar ia dapat mudah mendengar wejangan dari Rasulullah saw. Yang diyakini bahwa dalam wejangan itu terdapat kebaikan yang amat dalam serta keistimewaan yang agung.
b.    Bahwa perintah untuk saling meluangkan dan meluaskan tempat ketika berada di majelis, tidak saling berdesakan dan berhimpitan dapat dilakukan sepanjang dimungkinkan, karena cara demikian dapat menimbulkan keakranban di antara sesama orang yang berada di dalam majelis dan bersama-sama dapat mendengar wejangan-wejangan Rasulullah saw.
c.    Bahwa pada setiap orang yang memberikan kemudahan kepada hamba Allah yang ingin menuju pintu kebaikan di dunia dan di akhirat. Singkatnya ayat ini berisi perintah untuk memberikan kelapangan dalam mendatangkan setiap kebaikan dan memberikan rasa kebahagian kepada setiap orang Islam.

Ayat ini juga merupakan suatu motivasi untuk  manusia agar menghiasi keimanannya dengan mempunyai pengetahuan. Pengetahuan dapat diperoleh dengan mencaari ilmu . Selain hukum mencari ilmu itu wajib, dengan ilmu manusia akan ditinggikan derajatnya. Baik derajat dalam segi pahala ataupun dalam segi keridhoan Allah swt.



F.   Keutaman Ilmu

Syaikh Az-Zarnuji (dalam Thaifuri, 2008, hlm.6) mengemukakan keutamaan atau pentingnya ilmu pengetahuan yang tidak ada seorangpun yang meragukan, kaena ilmu itu merupakan sesuatu yang khusus diberikan pada manusia. Sebab segala hal selain ilmu itu bisa dimiliki manusia dan bisa juga bisa dimiliki binatang, seperti keberanian, ketegasan, kekuatan, kedermawanan, kasih sayang dan yang lainnya.

Dengan adanya ilmu pengetahuan, Allah memberikan keunggulan kepada Nabi Adam as atas para Malaikat. Oleh karenanya, malaikat diperintah untuk bersujud kepada Nabi Adam. Sesungguhnya keutamaan ilmu adalah sebagai perantara menuju ketakwaan yang akan menyebabkan seseorang berhak mendapatkan kemulian di sisi Allah swt.

Dalam kitab Usfuriyah terdapat hadits sebagai berikut:
Dari Ibrahim dari Alqamah dari Abdullah bin Mas’ud r.a. ia berkata, Rasulullah saw. Bersabda  “Membaca Al Qur’an itu amal orang-orang yang dilindungi, salat itu amal orang-orang yang tak berdaya, puasa itu amal orang miskin, tasbih itu amal orang perempuan, sedekah itu amal yang murah hati dan tafakkur itu amal oang yang lemah. Maukah Kutunjukkan kepada kalian amal para pahlawan?” Ada yang bertanya, “Ya Rosulullah, apakah amal para pahlawn itu?” Beliau menjawab, “Menuntut Ilmu, karena ia adalah cahaya orang mukmin di dunia dan di akhirat”.  “Aku adalah kota ilmu sedangkan Ali adalah pintunya. Ketika kaum Khawarij mendengar hadis ini, mereka membenci Ali dan berkumpullah sepuluh orang pemuka mereka. Mereka berkata, “Kita akan menanyakan satu masalah dan melihat bagaimana Ali menjawab kita. Seandainya ia menjawab masing-masing dari kita dengan jawaban lain, tahulah kita bahwa ia orang alim sebagaimana dikatakan oleh Nabi Saw.

Seorang kaum Khawarij mendengar hadis ini, mereka membenci Ali dan berkumpullah sepuluh orang pemuka mereka. Mereka berkata, “Kita akan menanyakan satu masalah dan melihat bagaimana Ali menjawab kita. Seandainya ia menjawab masing-masing dari kita dengan jawaban lain, tahulah bahwa ia orang alim sebagaimana dikatakan oleh Nabi Saw.
Seorang diantara mereka datang kepada Ali dan bertanya, “Hai Ali mana yang lebih baik, ilmu atau harta?” Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta. “Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?” Ali menjawab, “Ilmu itu warisan para Nabi dan harta itu warisan Qarun, Syaddad, Fir’aun dan lainnya. Kemudian pergilah orang itu. Datang lagi seorang yang lain, lalu bertanya seperti yang pertama. Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta. “Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?” Ali menjawab, “Ilmu menjagamu sedang engkau menjaga harta.” Kemudian pergilah orang itu.

Datang lagi seorang yang lain, lalu bertanya seperti yang pertama dan kedua. Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta. “Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?” Ali menjawab, “Pemilik harta mempunyai banyak musuh dan pemilik ilmu mempunyai banyak teman.” Kemudian pergilah orang itu. Datang lagi seorang yang lain, lalu bertanya, “Mana yang lebih baik, ilmu atau harta?” Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta. “Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?” Ali menjawab, “Apabila kau belanjakan hartamu, ia akan berkurang dan jika engkau amalkan ilmumu ia akan bertambah.” Kemudian pergilah orang itu. Datang lagi seorang yang lain, lalu bertanya, “Mana yang lebih baik, ilmu atau harta?” Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta. “Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?” Ali menjawab, “Pemilik harta bisa di panggil si pelit dan menjadi hina, sedangkan pemilik ilmu dipanggil dengan sebutan agung dan mulia.” Kemudian pergilah orang itu. Datang lagi seorang yang lain, lalu bertanya, “Mana yang lebih baik, ilmu atau harta?” Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta. “Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?” Ali menjawab, “Pemilik harta akan dihisab pada hari kiamat, sedangkan pemilik ilmu akan member syafaat pada hari kiamat.”

Kemudian pergilah orang itu. Datang lagi seorang yang lain, lalu bertanya, “Mana yang lebih baik, ilmu atau harta?” Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta. “Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?” Ali menjawab, “Harta itu makin lama didiamkan makin bertambah using, sedangkan ilmu tidak bisa lapuk dan usang.” Kemudian pergilah orang itu.
Datang lagi seorang yang lain, lalu bertanya, “Mana yang lebih baik, ilmu atau harta?” Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta. “Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?” Ali menjawab, “Harta itu bisa membuat hati menjadi keras, sedangkan ilmu menerangi hati.” Kemudian pergilah orang itu.

Datang lagi seorang yang lain, lalu bertanya, “Mana yang lebih baik, ilmu atau harta?” Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta. “Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?” Ali menjawab, “Pemilik harta dikatakan sebagai pemilik dengan sebab harta, sedangkan orang yang berilmu mengaku sebagai hamba (Allah).”
Andaikata mereka bertanya tentang ini, niscaya akan kujawab dengan jawaban lain selama aku masih hidup. Kemudian datanglah mereka dan menyerah semua.

Setelah memahami hadits di atas, penulis menyimpulkan bahwa ilmu jauh lebih baik ketimbang harta. Selain itu penulis menyimpulkan  10 keutamaan ilmu, yakni sebagai berikut:
1.    Harta merupakan warisan dari Qorun dan Fir’aun sedangkan ilmu merupkan warisan para nabi.
2.    Ilmu menjaga sedangkan harta dijaga.
3.    Orang yanan bertambah.g memiliki harta banyak musuh sedangkan orang yang memiliki ilmu banyak teman.
4.    Jika diberikan harta akan habis sedangkan ilmu akan bertambah.
5.    Orang yang mempunyai harta dipanggil dengan sebutan pelit. Sedangkan orang yang memiliki ilmu akan dipanggil dengan sebutan agung dan mulia.
6.    Harta dijaga dari pencuri, sedangkan ilmu tidak bisa dicuri.
7.    Orang yang mempunyai harta akan dihisab pada hari qiyamah sedangkan orang yang mempunyai ilmu akan memberi pertolongan.
8.    Harta akan rusak dengan lamanya waktu sedangkan ilmu tidak akan rusak.
9.    Harta akan mengeraskan hati sedangkan ilmu akan menerangi hati.
10.  Orang yang mempunyai harta akan mengakui pangkat tuhan sedangkan orang yang mempunyai ilmu akan mengakui sebagai hamba.
Kemudian menurut  Rifki dalam blognya menjelaskan bahwa ilmu terdiri dari 3 huruf yang masing-masing mempunyai arti filisofi sendiri, yakni sebagai berikut:
Huruf ‘ain ditulis dengan bentuk seperti membuka mulut lebar-lebar. Itu maksudnya bahwa setiap muslim harus rakus terhadap ilmu. Tanpa batas waktu dan tak ada kata terlambat. Menuntut ilmu itu dimulai sejak buaian hingga masuk ke liang lahad.

Huruf lam, yang tegak seperti menara atau tugu yang menjulang tinggi, melambangkan bahwa orang-orang yang memiliki ilmu itu akan diangkat oleh Allah derajatnya tinggi-tinggi. Kedudukannya akan lebih mulia daripada orang yang awam.

Huruf mim dengan ujung ke arah bawah melambangkan bahwa setiap orang yang berilmu, makin ting`gi ilmunya, ia akan semakin rendah hati dan jauh dari sifat angkuh dan sombong.









BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Ilmu merupakan kata yang berasal dari bahasa arab yang artinya pengetahuan dan bentuk mashdar dari fi’il tsulasi mujarod علم يعلم علم .  Secara lebih jelas ilmu dapat didefinisikan sebagai  pengetahuan tentang teori beserta penjelasannya.

QS. Thaha ayat 114 memiliki makna hendaknya seorang penuntut ilmu hendaknya untuk tidak menuntut ilmu dengan tergesa-gesa. Karena mencari ilmu itu tidak cukup dengan waktu yang singkat. Serta berdoa ketika hendak menuntut ilmu untuk mengingat bahwa pada hakikatnya Allahlah yang menambahkan ilmu kita.

QS. An Naml ayat 15 memiliki makna bahwa kita harus senantiasa bersyukur kepada Allah yang telah memberikan ilmu-Nya kepada kita. Bersyukur disini tidak hanya dengan ucapan, melainkan dengan pengimplementasiannya.

 QS. Al- Qashash ayat 14 memiliki makna bahwa seorang yang berilmu hendaklah berbuat baik seperti apa yang telah Nabi Musa Contohkan. Karena sesungguhnya Allah akan memberi ilmu kepada yang berbuat baik.

QS. Al Mujadalah ayat 11 memiliki makna bahwa seorang yang memiliki ilmu hendaknya melapangkan tempat ketika berada di dalam majelis. Selain tempat ia juga harus melapangkan hati. Kelapangan dalam mendatangkan setiap kebaikan dan memberikan rasa kebahagian kepada setiap orang Islam.

Keutamaan ilmu adalah sebagai perantara menuju ketakwaan yang akan menyebabkan seseorang berhak mendapatkan kemulian di sisi Allah swt.
Di samping itu kita sebagai yang memiliki ilmu hendaknya memiliki sifat kerendahan hati sebagaimana yang terkandung dalam huruf mim pada lapad علم.  



B.   Rekomendasi

Dari uraian yang telah penulis paparkan, disarankan pembaca dapat mempelajarinya dan menjadikannya sebagi pedoman, sebagaimana diketahui bahwa materi ini merupakan salah satu bahan untuk bagaimana sikap seorang yang beilmu. Untuk pengembangan lebih lanjut penulis juga menyarankan pembaca agar mencari referensi yang lainnya. Selain itu penulis juga sarankan agar ketika akan menyusun makalah tentang tafsir ayat-ayat Allah agar sering bertanya kepada orang yang lebih ahli dalam ilmu tafsir ini.

 Mungkin inilah yang dapat dituliskan pada penulisan makalah ini meskipun penulisan ini jauh dari sempurna. Masih banyak kesalahan dari penulisan makalah ini, karna  manusia adalah tempat salah dan dosa, dan penulis  juga butuh saran agar bisa menjadi motivasi untuk membuat makalah yang lebih baik lagi.









DAFTAR PUSTAKA

Abdullah. 2003. Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5. Bogor. Pustaka Imam Asy Syafi’i.
Al-Hamid, Zeid Husein. 2012. Terjemah Petuah Usfuriyah. Surabaya: Mutiara Ilmu.
Nata, Abuddin. 2002. Tafsir Ayat-ayat Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Quthb, Sayyid. 2004. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Jilid 11. Jakarta: Gema Insani.
Quthb, Sayyid. 2004. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Jilid 8. Jakarta: Gema Insani.
Quthb, Sayyid. 2004. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Jilid 9. Jakarta: Gema Insani.
Rifki. 2013. Ain Lam Mim [online]. Tersedia: https://jampang.wordpress.com/2013/11/09/ain-lam-mim/ . [3 Maret 2017].
Shihab, M. Quraish. 2009. Tafsir Al Misbah Volume 13. Jakarta:  Lentera Hati.
Shihab, M. Quraish. 2009. Tafsir Al Misbah Volume 9. Jakarta:  Lentera Hati.
Sigit Suhandoyo. 2014. Hakikat Ilmu dalam Al-Qur’an [online]. Tersedia: http://sigitsuhandoyo.blogspot.co.id/2014/04/hakikat-ilmu-dalam-al-quran.html.  [5 Maret 2017].
Tafsir, Ahmad. 2012. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: PT Rosdakarya Offset.
Thaifuri, Muhammadun. 2008. Pedoman Belajar bagi Penuntut Ilmu secara Islami (Terjemah Ta’lim Muta’alim). Surabaya: Menara Suci.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar