Senin, 10 April 2017

Ilmu Mantiq Ta'rif



BAB I
PENDAHULUAN

Islam merupakan agama yang menyeluruh, karena dalam islam terdapat berbagai ilmu yang belum kita ketahui sebelumnya, salah satunya yaitu ilmu mantiq. Meskipun pertama yang menemukan ilmu ini adalah ilmuan Yunani yang pada waktu itu belum adanya agama Islam.

Menurut Baihaqi (2012, hlm.1) ilmu mantiq adalah ilmu tentang kaidah-kaidah yang dapat membimbing manusia ke arah berfikir secara benar yang menghasilkan kesimpulan yang benar sehingga ia terhindar dari berfikir secara keliru yang menghasilkan kesimpulan salah. Jadi bisa disimpulkan bahwa manfaat ilmu mantiq secara praktis adalah untuk mencari dalil kemudian kita dapat menyimpulkannya. Dalam menyimpulkan sesuatu kita haruslah berfikir terlebih dahulu sebelum kita mengungkapkanya, baik ungkapan secara tulisan maupun sescara lisan.

Tapi, sebelum kita menyimpulkan terdapat beberapa hal yang harus kita perhatikan dan harus kita pahami dengan benar. Yang salah satunya harus mengetahui hakikat sesuatu beserta penjelasannya. Hal ini sejalan dengan salah satu materi ilmu mantiq yakni materi tentang ta’rif. Oleh karena itu penulis menyusun makalah tentang ta’rif. Disini terdapat beberapa bahasan tentang ta’rif, yakni pengertian ta’rif, pembagian ta’rif dan syarat-syarat ta’rif.










BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Ta’rif

Menurut Baihaqi (2012, hlm. 47) ta’rif secara lughawi adalah memperkenalkan, memberitahukan sampai jelas dan terang mengenai sesuatu. Secara mantiki ta’rif adalah teknik menerangkan baik dengan tulisan maupun lisan, yang dengannya diperoleh pemahaman yang jelas tentang sesuatu yang diterangkan/diperkenalkan. Dalam bahasa Indonesia, ta’rif tersebut dapat diungkapkan dengan perbatasan atau definisi.

التعريف هو الوسبلة التي يكون بها ادراك المفرد وتصوره فيه تعريف حقيقة الشيئ وتمييزه عن غيره من الانواع المختلفة التي تندرج تحت جنس واحد كمعرفتنا حقيقة الصلاة والزكاة والصوم والحج والفرق بين كل منها (زكاريا، 3:1999)

Dalam ilmu mantiq, ta’rif berperan amat mendasar, karaena istidlal (penarikan kesimpulan) yang merupakan tujuan yang paling fondamental, tergantung amat erat kepada jelasnya ta’rif lafazh yang dipakai untuk menyusun qadhiyah-qadhiyah (kalimat-kalimat) yang darinya ditarik natijah (kesimpulan). Jika ta’rif lafazh tidak jelas, ,maka kesimpulan yang dihasilkan mungkin sekali keliru atau salah. Basiq Djalil (2010, hlm. 22) menambahkan bahwa ta’rif adalah pengenalan atau pemehaman mengenai pengeretian afrad-afrad untuk mendapatkan gambaran yang jelas terhadap afrad tersebut, atau bila disingkat bisa disebut bahwa ta’rif adalah memperkenalkan sesuatu sesuai hakikat/mahiyah sebenarnya.
Setelah melihat beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa ta’rif adalah pengenalan yang akan menerangkan sesuat baik dengan tulisan ataupun lisan yang dengannya diperoleh suatu pemahaman tentang hakikat sesuatu dan membedakannya dari yang lain.

B.     Pembagian Ta’rif
Menurut Baihaqi (2012, hlm. 48) bahwa ilmu mantiq terbagi menjadi:
1.    Ta’rif Had
Ta’rif atau (definisi) dengan had, adalah ta’rif yang menggunakan rangkaian lafazh kulli jins dan fashl.
Contoh:
Insan adalah hewan yang berfikir.
Hewan adalah jins dan berfikir adalah fashl bagi manusia.
Ta’rif Had dibagi menjadi dua, yaitu:
a.    Ta’rif Had Tam adalah ta’rif dengan menggunakan lafazh jins qarib dan fashl.
Contoh:
Insan adalah hewan yang dapat berfikir.
Hewan adalah jins qarib yang (dekat) kepada insan karena tidak ada lagi jins dibawahnya. Artinya dibawah hewan tidak ada lagi lafazh kulli yang terkategori jins, kecuali insan yang terkategori nau’. Sedang berfikir adalah fashl bagi insan.
b. Ta’rif Had Naqish adalah ta’rif yang: menggunakan jins dan fashl atau menggunakan fashl qarib saja.
Contoh 1:
Insan adalah jism (tubuh) yang dapat berfikir.
Jism adalah jins ba’id bagi insan dan dapat berfikir adalah fashl baginya.
Contoh 2:
Insan adalah yang dapat berfikir (tanpa menyebutkan jins).
2.      Ta’rif Rasm

Ta’rif dengan rasm adalah ta’rif tam menggunakan jins dan ‘irdhi khas.
Contoh:
Insan adalah hewan yang dapat tertawa.
Hewan adalah jins dan tertawa adalah ‘irdhi khas (sifat khusus).
Ta’rif rasm terbagi dua, yaitu:
a.       Ta’rif rasm tam adalah ta’rif (definisi) yang menggunakan lafazh jins qarib dan fashl.
Contoh: insan adalah hewan yang dapat ketawa.
Hewan adalah jins qarib bagi insan. Sedangkan ketawa adalah irdhi khas baginya.
b.      Ta’rif rasm naqish adalah ta’rif yang menggunakan (1) lafazh ‘irdhi khas saja.
Contoh 1:
Insan adalah jism yang bisa ketawa.
Contoh 2:
Insan adalah yang ketawa.
Ketawa adalah ‘irdhi khas (sifat khusus) bagi insan.

3.      Ta’rif dengan Lafazh

Ta’rif dengan lafazh adalah ta’rif dengan menggunakan lafazh lain yang sama artinya saja.
Contoh:
Tepung adalah terigu.
Insan adalah manusia.
Itik adalah bebek.
Lembu adalah sapi.
4.      Ta’rif dengan Mitsal

Ta’rif dengan mitsal adalah memberikan contoh (mitsal).
Contoh:
Lafazh kulli adalah seperti insan.
Lafazh juz’inya adalah seperti Muhammad, Mustafa, Hindun.
Kalimat (bahasa Indonesia) adalah seperti Guru datang.
Kata-kata (bahasa Indonsesia) adalah seperti Batu, kayu, besi.

C.     Syarat-syarat Ta’rif

Menurut Baihaki (2102, hlm. 51) bahwa ta’rif memiliki beberapa syarat, yakni:
1.      Ta’rif harus jami’-mani’ (istilah lain untuk itu ialah muththarid-mun’akis).
Secara lughawi, jami’ berarti mengumpulkan dan mani’ berarti melarang. Dalam ilmu mantiq, jami’ berarti mengumpulkan semua satuan tang dita’rifkan ke dalam ta’rif. Sedangkan mani’ berarti melarang masuk segala satuan hakekat lain dari yang dita’rifkan ke dalam ta’rif tersebut. Oleh karena itu, ta’rif tidak boleh lebih umum atau lebih khusus dari yang dita’rifkan.
a.       Contoh ta’rifkan lebih umum:
Manusia adalah hewan.
Ta’rif ini belum mani’ karena masih terlalu umum sehingga tidak melarang sapi, kambing, anjing dan lain-lainya msuk ke dalam ta’rif  itu.
b.      Contoh ta’rif lebih khusus:
Manusia adalah hewan yang bisa membaca dan menulis.
Ta’rif ini jami’ karena terlalu khusus sehingga manusia-manusia yang tidak pantas membaca dan menulis, seperti Nabi Muhammad, belum terkumpul kedalam ta’rif itu.
c.       Contoh ta’rif yang sesuai:
Manusia adalah hewan yang berfikir dan/berkata-kata
Ta’rif itu menjadi benar, karena sudah jami’-mani’. Semua manusia sudah terkumpul didalamnya dan yang selain manusia sudah terlarang masuk ke dalamnya. Hal ini disebabkan oleh karena ta’rif tersebut tidak terlalu umum dan tidak pula terlalu khusus.

2.    Ta’rif harus lebih jelas dari yang dita’rifkan. Jadi, ta’rif tidak boleh sama samarnya atau lebih samar dari yang dita’rifkan.
Contoh:
Buah kelapa adalah  buah sebesar kepala bulat, berbungkus kulit keras, berjuntai di pohonnya dan berisi santan yang bisa dijadikan minyak untuk menggoreng pisang.
Demikian halnya dengan ta’rif:
Kain adalah kapas yang disambung-sambung dan dijalin sehingga menjadi panjangdan lebar.
Mobil adalah besi yang dilengkung-lengkung dan disambung-sambung, dilengkapi dengan mesin, bensin dan karet.
Ta’rif ini membuat orang malah semakin bingung.

3.      Ta’rif harus sama pengertiannya dengan yang dita’rifkan. Jadi, tidaklah benar ta’rif.

Contoh:
Rokok adalah asap yang mengepul dari mulut ke udara dan berbau memabukkan.
Barangkali, ta’rif itu akan menjadi benar, jika disempurnakan sebagai berikut:
Rokok adalah tembakau kering yang dibungkus dengan daun kawung (nipah) yang dibakar ujungnya untuk diisap asapnya dari pangkalnya.
Atau:
Rokok adalah tembakau kering yang dibungkus dengan kertas putih khusus, untuk dibakar salah satu ujungnya dan diisap pada ujung yang lainnya dan dihembuskan sebagia asapnya.

4.      Ta’rif tidak boleh berputar-putar (daur)

Contoh:
Ilmu adalah pengetahuan di dalam otak.
Cabe adalah rasa pedas yang dimakan.
Manusia adalah orang dan orang adalah manusia.
Karena sifatnya yang berputar-putar, maka ta’rif-ta’rif tersebut tidak benar.

5.      Ta’rif tidak boleh memakai kata-kata majaz (kiasan atau metaforik)

Contoh:
Pahlawan adalah singa yang gugur
Ilmu adalah laut yang nenulihkan kehausan
Singa dalam ta’rif itu adalah kiasan dari seorang prajurit yang sangat berani.
Laut adalah kiasan ilmu yang sangat luas. Kata kiasan dari ilmu yang sangat luas. Kata kiasan yang semacam itu tidak boleh dipakai di dalam ta’rif. Akan tetapi, jika disertai dengan qarinah (kata-kata yang menjelaskannya), maka pemakaian kata majaz itu dibenarkan dipakai dalam ta’rif.
Contoh:
Pahlawan adalah singa yang gugur di medan perang.
Ilmu adalah laut yang memulihkan kehausan para ilmuan.

6.      Ta’rif tidak boleh menggunakan kata-kata musytarak (mempunyai lebih dari satu arti)
Contoh:
Arloji adalah pukul yang dipakai ditangan.
Pantat adalah sesuatu yang berlubang.
Pukul dalam ta’rif tersebut mempunyai dua arti, yaitu jam dan pukulan. Oleh karenanya, ta’rif itu tidak benar. Ia akan menjadi benar, jika disempurnakan dengan qarinah, yang member petunjuk kepada makna yang dimaksudkan.
Contoh:
Arloji adalah pukul yang dipakai ditangan untuk mengetahui waktu (pukul berapa sekarang?).
Dalam contoh kedua terlihat bahwa pantat adalah lafazh musytarak yang bisa menunjuk pantat botol, pantat periuk yang nyatanya tidak berlubang. Ta’rif semacam itu dengan sendirinya tidak benar.




















BAB III
KESIMPULAN

Dari beberapa penjelasan di atas penulis menyimpulkan:
A.      Pengertian Ta’rif

Menurut bahasa ta’rif artinya adalah memperkenalkan atau memberitahukan sesuatu sampai jelas atau ada juga yang menyebutkan alqaulus syarih yaitu ungkapan yang menjeleskan. Sedangkan ta’rif menurut istilah  adalah pengenalan untuk menerangkan sesuat baik dengan tulisan ataupun lisan yang dengannya diperoleh suatu pemahaman tentang hakikat sesuatu dan membedakannya dari yang lain. Di dalam bahasa indonesia ta’rif biasa disebut dengan definisi.

B.       Pembagian Ta’rif

1.      Ta’rif Had adalah ta’rif yang menggunakan rangkaian lafazh kulli jins dan fashl.
a.       Ta’rif had tam
Contoh: Insan adalah hewan yang dapat berpikir
b.      Ta’rif had naqish
Contoh: insan adalah jism (tubuh) yang dapat berpikir
2.      Ta’rif Rasm adalah ta’rif yang menggunakan jins dan ‘irdhi khas.
a.       Ta’rif rasm tam
Contoh: insan adalah hewan yang dapat ketawa
b.      Ta’rim rasm naqish
Contoh: insan adalah jisim yang bisa ketawa
3.      Ta’rif dengan Lafazh adalah ta’rif dengan menggunakan lafazh lain yang sama artinya saja.
Contoh: tepung adalah terigu
4.      Ta’rif dengan Mitsal adalah ta’rif yang memberikan contoh.  
Contoh: kalimat (bahasa Indonesia) adalah seperti: Guru datang

C.  Syarat Ta’rif
Berikur merupakan syarat-syarat ta’rif:
1.    Ta’rif harus jami’-mani’ (istilah lain untuk itu ialah muththarid-mun’akis) maksudnya ta’rif tidak boleh lebih umum atau lebih khusus dari yang dita’rifkan.
Contoh ta’rifkan lebih umum:
Manusia adalah hewan.
Contoh ta’rif lebih khusus:
Manusia adalah hewan yang bisa membaca dan menulis.
Contoh ta’rif yang sesuai:
Manusia adalah hewan yang berfikir dan/berkata-kata
2.    Ta’rif harus lebih jelas dari yang dita’rifkan. Jadi, ta’rif tidak boleh sama samarnya atau lebih samar dari yang dita’rifkan.
Contoh:
Buah kelapa adalah  buah sebesar kepala bulat, berbungkus kulit keras, berjuntai di pohonnya dan berisi santan yang bisa dijadikan minyak untuk menggoreng pisang.
3.    Ta’rif harus sama pengertiannya dengan yang dita’rifkan. Jadi, tidaklah benar ta’rif. Seperti contoh:
Rokok adalah asap yang mengepul dari mulut ke udara dan berbau memabukkan.
4.    Ta’rif tidak boleh berputar-putar (daur)
Contoh:
Ilmu adalah pengetahuan di dalam otak.
Manusia adalah orang dan orang adalah manusia.
Karena sifatnya yang berputar-putar, maka ta’rif-ta’rif tersebut tidak benar.

5.    Ta’rif tidak boleh memakai kata-kata majaz (kiasan atau metaforik)
Contoh:
Pahlawan adalah singa yang gugur
Ilmu adalah laut yang nenulihkan kehausan

6.    Ta’rif tidak boleh menggunakan kata-kata musytarak (mempunyai lebih dari satu arti)
Contoh:
Arloji adalah pukul yang dipakai ditangan.


Daftar Pustaka
Baihaqi. 2012. Ilmu Matik Teknik Dasar Berfikir Logik. Jakarta: Darul Ulum Press.
Djalil, Basiq.2010. Logika (Ilmu Mantiq). Jakarta. Prenada Media Group.
Zakariya, Aceng. 1999. Ilmu Mantiq.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar